Pasar Saham Asia Terguncang, IHSG Melemah 29 Poin

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 22 Mei 2026 | Pasar saham Asia terkena dampak dari ketidakpastian ekonomi global, termasuk perang harga minyak yang terus berlanjut. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat pagi dibuka melemah 29,31 poin atau 0,48 persen ke posisi 6.065,63. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 2,42 poin atau 0,39 persen ke posisi 613,98.

Menurut analis pasar modal sekaligus pendiri Republik Investor Hendra Wardana, sentimen pasar masih akan dipengaruhi oleh pergerakan kurs rupiah, arus dana asing, perkembangan konflik geopolitik Amerika Serikat (AS) dengan Iran, serta respons pasar terhadap kebijakan ekonomi domestik. "Jika rupiah kembali melemah dan tekanan jual asing berlanjut, maka IHSG berpotensi kembali menguji area support 6.000," ujar Hendra.

Baca juga:

Sementara itu, perusahaan teknologi authID (AUID) melaporkan pertumbuhan pendapatan yang signifikan dan ekspansi kemitraan dengan perusahaan besar, namun juga mengakui dampak negatif dari penundaan siklus penjualan dan kerugian pelanggan pada pemesanan dan kinerja.

Di Amerika Serikat, harga minyak terus berfluktuasi, yang berdampak pada pasar saham. Harga minyak Brent briefly mencapai $109 per barrel sebelum turun 2,3% menjadi $102,58. Hal ini terjadi karena ketidakpastian tentang berapa lama perang dengan Iran akan mempengaruhi pasokan minyak global.

Baca juga:

Presiden Mexico Claudia Sheinbaum dan Sekretaris Keamanan Dalam Negeri AS Markwayne Mullin sepakat untuk mempertahankan kerja sama bilateral dalam mengatasi masalah keamanan, termasuk penanggulangan penyelundupan narkoba dan kematian imigran. Pertemuan ini diadakan setelah ketegangan antara kedua negara terkait kematian dua agen CIA di perbatasan Mexico.

Kesimpulan dari kejadian-kejadian tersebut adalah bahwa pasar saham global saat ini sangat volatile dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk perang harga minyak, ketidakpastian ekonomi global, dan konflik geopolitik. Oleh karena itu, investor perlu lebih selektif dan disiplin dalam mengelola risiko.

Baca juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *