Keluarga Ungkap Penggelapan Rp4,7 Miliar oleh Menantu di Kepahiang: Skandal Cinta dan Kebobrokan Keuangan

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 17 April 2026 | Kasus penggelapan uang mertua senilai Rp4,7 miliar kembali mencuat ke permukaan setelah keluarga menantu yang dikenal dengan inisial SU, atau lebih akrab disapa Aan, mengungkapkan detail pelanggaran tersebut. Kejadian ini terjadi di Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu, dan menjadi sorotan nasional setelah foto-foto pelaku bersama selingkuhan di sebuah villa di Bali tersebar luas di media sosial. Penyelidikan kepolisian mengungkap modus operandi yang melibatkan nota fiktif, penyelewengan hasil penjualan kopi milik ayah mertuanya, serta penggunaan dana untuk gaya hidup mewah.

Menurut keterangan keluarga, Aan diketahui telah memanfaatkan kepercayaan mertuanya selama beberapa tahun terakhir. Salah seorang anggota keluarga mengirimkan pernyataan singkat di media sosial, “Maaf nian dia itu mokondo,” yang secara tidak langsung menegaskan rasa kecewa sekaligus menolak tindakan pelaku. Pernyataan tersebut disertai foto-foto yang menunjukkan Aan bersama wanita lain di sebuah vila eksklusif, menambah bumbu skandal selingkuh yang melibatkan uang hasil penggelapan.

Baca juga:

Kantor Kepolisian Resor (Polres) Kepahiang segera menindaklanjuti laporan tersebut. Kanit Penyidik Umum (Kanit Pidum) Polres Kepahiang, Aipda Abdullah Barus, menjelaskan bahwa pelaku berhasil diamankan tanpa perlawanan pada tanggal 15 April 2026. Selama proses interogasi, Aan tidak membantah perbuatannya dan mengakui bahwa uang yang digelapkan berasal dari penjualan kopi milik ayah mertuanya secara bertahap. Selain penahanan, pihak kepolisian juga berhasil menyita sejumlah barang bukti penting, antara lain:

  • Uang tunai senilai ratusan juta rupiah
  • Handphone merek terbaru
  • Laptop beserta hard drive yang berisi data transaksi
  • Berbagai barang branded seperti jam tangan, tas, dan sepatu yang diduga dibeli dengan uang hasil penggelapan

Hasil pemeriksaan sementara mengungkapkan bahwa uang miliaran rupiah tersebut tidak pernah dipergunakan untuk kepentingan keluarga atau pengembangan usaha kopi. Sebaliknya, Aan mengalokasikan dana tersebut untuk berselingkuh, berfoya-foya, dan membeli barang-barang mewah yang kemudian dipamerkan di media sosial. Salah satu unggahan yang menjadi viral memperlihatkan Aan berlibur bersama wanita lain di sebuah villa di Bali, lengkap dengan mobil sport dan perlengkapan mewah. Caption foto tersebut menyinggung, “kalau mau selingkuh pakai uang pribadi, bukan mencuri uang mertua,” menambah kehebohan publik.

Modus fiktif yang dipakai Aan melibatkan pembuatan nota palsu untuk menutupi aliran dana. Dengan mengklaim adanya penjualan kopi yang sebenarnya tidak terjadi, ia berhasil menarik dana dari rekening keluarga mertua secara bertahap. Pendekatan ini tidak hanya menimbulkan kerugian finansial yang signifikan, tetapi juga menurunkan kepercayaan di antara anggota keluarga. Kasus serupa sebelumnya pernah terjadi di wilayah lain, namun skala kerugian mencapai Rp4,7 miliar menjadikannya salah satu kasus penggelapan terbesar di Bengkulu dalam beberapa tahun terakhir.

Secara hukum, pelaku dapat dijerat dengan pasal-pasal terkait penggelapan, penipuan, serta kemungkinan pelanggaran hukum tentang pencurian dan pemerasan. Pihak kepolisian menyatakan bahwa proses penyidikan masih berlangsung dan akan berkoordinasi dengan Kejaksaan Negeri Bengkulu untuk menentukan dakwaan yang tepat. Sementara itu, reaksi publik di media sosial terbagi antara kecaman keras terhadap perilaku Aan dan simpati kepada keluarga korban yang kini harus menanggung beban emosional dan finansial.

Baca juga:

Kasus ini menjadi peringatan penting bagi masyarakat tentang pentingnya pengawasan keuangan dalam lingkungan keluarga, terutama ketika terdapat bisnis keluarga yang melibatkan dana besar. Penggunaan nota fiktif dan penyelewengan dana dapat merusak kepercayaan serta menimbulkan kerugian yang sulit dipulihkan. Penegakan hukum yang tegas diharapkan dapat menjadi deterrent bagi tindakan serupa di masa depan.

Dengan proses hukum yang masih berjalan, diharapkan kebenaran penuh akan terungkap dan keadilan dapat ditegakkan untuk keluarga yang menjadi korban. Kasus penggelapan uang mertua ini tidak hanya menjadi sorotan kriminalitas, melainkan juga mengingatkan masyarakat akan bahaya penyalahgunaan kepercayaan dalam hubungan keluarga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *