PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 29 Mei 2026 | Gempa bumi tektonik mengguncang wilayah Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Jumat (29/5/2026) pagi. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat, ada sebanyak tiga gempa bumi yang mengguncang yang terpusat di laut dan darat.
Gempa pertama terjadi pukul 04.03.25 WITA dengan kekuatan magnitudo 3,7 dan berlokasi di laut pada jarak 18 kilometer utara Lombok Barat, NTB, pada kedalaman 11 kilometer. Gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar aktif di dasar laut.
Sementara itu, di belahan bumi lain, Eropa bersiap menghadapi ledakan kasus chikungunya. Sebuah penelitian baru memperingatkan bahwa akibat perubahan iklim, nyamuk-nyamuk kini mulai berpindah ke wilayah utara bumi. Hal ini membuat benua Eropa dan Amerika Utara terancam menjadi pusat penyebaran baru bagi virus chikungunya.
Penelitian yang dipimpin oleh para ilmuwan dari China dan diterbitkan dalam jurnal ilmiah Frontiers in Cellular and Infection Microbiology ini menemukan bahwa saat ini sudah ada 139 negara atau wilayah yang masuk dalam zona merah virus chikungunya. Jumlah wilayah ini mencakup sekitar 21,3 persen dari total luas daratan di seluruh dunia.
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa suhu udara yang lebih hangat ternyata bisa mempercepat pertumbuhan virus di dalam tubuh nyamuk. Pada suhu antara 18 derajat Celcius hingga 28 derajat Celcius, virus tersebut menjadi siap untuk menyebar sekitar empat hingga lima kali lebih cepat, sehingga meningkatkan risiko terjadinya wabah.
Di Jepang, Sistem Peringatan Dini Gempa Bumi (EEWS) telah berhasil mengembangkan teknologi canggih untuk mendeteksi gempa bumi sebelum guncangan utama terjadi. Sistem ini bekerja dengan cara memanfaatkan perbedaan kecepatan antara gelombang gempa dan kecepatan teknologi komunikasi manusia.
Sistem peringatan dini ini dapat mengirimkan alarm ke ponsel warga hingga menghentikan kereta cepat secara otomatis, bahkan sebelum guncangan besar gempa dirasakan oleh masyarakat. Teknologi ini telah terbukti efektif dalam menyelamatkan nyawa dan mengurangi kerusakan akibat gempa bumi.
Kesimpulan, gempa bumi dan penyebaran penyakit seperti chikungunya merupakan ancaman nyata bagi masyarakat global. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana alam dan wabah penyakit. Dengan teknologi canggih dan penelitian ilmiah, kita dapat meningkatkan kemampuan untuk mendeteksi dan mengatasi ancaman tersebut.
