PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 03 Juni 2026 | Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih dihantui tekanan. Tercermin dari kurs jual dolar AS di sejumlah bank besar yang berada di kisaran Rp 17.800-17.900. Berdasarkan data dari beberapa sumber, rupiah terus melemah akibat meningkatnya permintaan terhadap aset-aset berbasis dolar AS.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap bahwa dolar AS masih menjadi aset safe haven di tengah kondisi global saat ini. Dolar masih dominan digunakan dalam transaksi dan pembayaran internasional. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah.
Menurut Dian, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh meningkatnya minat terhadap aset-aset berbasis dolar AS. Dalam situasi ketidakpastian, aset dolar masih menjadi pilihan karena dianggap lebih aman, sehingga permintaannya cenderung meningkat.
Sementara itu, pergerakan dolar AS terhadap sejumlah mata uang lainnya cukup bervariasi. Dolar AS terpantau menguat terhadap yen Jepang, dolar Australia, dan poundsterling. Namun, dolar AS melemah terhadap yuan China, euro, lalu stagnan terhadap dolar Singapura.
PT Vale Indonesia juga akan membagikan dividen senilai 45,64 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp815,23 miliar kepada pemegang saham. Besaran dividen itu merupakan 60 persen dari capaian laba Vale Indonesia sepanjang 2025.
Nilai tukar atau kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih loyo pada penutupan perdagangan setelah libur panjang. Berdasarkan data dari beberapa sumber, mata uang Garuda ditutup melemah 34 poin atau 0,19 persen ke level Rp17.839 per dolar AS.
Dalam beberapa hari terakhir, rupiah terus melemah akibat meningkatnya permintaan terhadap aset-aset berbasis dolar AS. OJK belum melihat adanya indikasi peningkatan signifikan pada deposito valuta asing (valas) di perbankan saat rupiah mengalami pelemahan.
OJK mengingatkan bahwa perpindahan dana ke instrumen dolar bisa memperburuk likuiditas serta kondisi ekonomi. Situasi tersebut dinilai tidak diharapkan baik oleh industri perbankan maupun pelaku ekonomi secara umum.
Untuk itu, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia. Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan transparansi dan kualitas pengelolaan keuangan negara.
Dengan demikian, diharapkan rupiah dapat kembali stabil dan meningkat. Namun, perlu diingat bahwa pelemahan rupiah bukanlah satu-satunya masalah yang dihadapi oleh perekonomian Indonesia. Masih banyak tantangan lain yang perlu diatasi untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia.
