PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 03 Juni 2026 | Nilai tukar rupiah terus melemah, bahkan hampir menyentuh angka Rp18.000 per dolar AS. Kondisi ini berpotensi memicu kenaikan harga barang, terutama barang impor. Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara menyatakan bahwa industri otomotif tidak akan langsung menaikkan harga mobil baru hanya karena melemahnya nilai tukar rupiah.
Menurut Kukuh, industri juga mempertimbangkan efek jangka panjangnya. "Biasanya pelaku industri otomotif itu enggak segampang itu 'oh ini naik, hari ini kita (naikkan harga mobil)'. Kan kita bukan kayak fast moving things, perlu penghitungan," ujarnya. Beberapa agen pemegang merek di Indonesia juga belum memiliki rencana menaikkan harga mobil.
Honda, misalnya, masih mempertahankan harga mobil. Perusahaan ini merasa diuntungkan dengan tingkat komponen dalam negeri yang tinggi, sehingga tidak terlalu bergantung pada komponen impor. "Tentunya pelemahan rupiah sekarang ini memberi tekanan ya buat kami yang melakukan importasi, misalnya impor (CBU) ataupun komponen, juga kadang produksi buat bahan-bahan produksi kami juga ada yang masih (dibeli) menggunakan mata uang asing. Tapi sebagian besar produksi kami di pabrik Karawang itu sudah memiliki tingkat kandungan dalam negeri yang sangat tinggi, jadi bisa menahan dampak pelemahan rupiah," ungkap Sales & Marketing and After Sales Director PT Honda Prospect Motor (HPM) Yusak Billy.
Sementara itu, di wilayah perbatasan RI-Malaysia, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, harga sejumlah komoditas bahan pokok atau sembako juga terpantau merangkak naik. Lonjakan harga ini merupakan dampak langsung dari tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing yang terus bergulir. Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah Perdagangan dan Perindustrian (DKUKMPP) Nunukan, Dior Frames, membenarkan bahwa sejumlah komponen sembako mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan akibat imbas penurunan nilai tukar rupiah tersebut.
Untuk menghadapi kondisi ini, pengamat ekonomi dari Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar, Bali, Ida Bagus Raka Suardana menganjurkan masyarakat untuk mengelola keuangan dan mengurangi gaya hidup konsumtif. "Sebagai masyarakat biasa, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengubah pola konsumsi menjadi lebih bijak dan produktif," ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya alokasi sejumlah dana darurat dan pengelolaan pengeluaran saat kondisi ekonomi bergejolak.
Dalam situasi rupiah turun, masyarakat sebaiknya memperbesar tabungan, mengurangi utang konsumtif, dan lebih berhati-hati menggunakan fasilitas kredit. Banyak keluarga saat ini rentan karena pengeluaran lebih besar daripada pendapatan, sementara harga kebutuhan pokok terus meningkat. Dengan mengelola keuangan dan mengurangi gaya hidup konsumtif, masyarakat dapat menghadapi kondisi melemahnya nilai tukar rupiah dengan lebih baik.
Kesimpulan, melemahnya nilai tukar rupiah memang berpotensi memicu kenaikan harga barang, terutama barang impor. Namun, dengan mengelola keuangan dan mengurangi gaya hidup konsumtif, masyarakat dapat menghadapi kondisi ini dengan lebih baik. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk memperbesar tabungan, mengurangi utang konsumtif, dan lebih berhati-hati menggunakan fasilitas kredit.
