PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 08 Juni 2026 | Rupiah yang melemah terhadap dolar AS telah menciptakan efek polarisasi yang tajam di sektor riil. Industri manufaktur, farmasi, dan otomotif menjadi sektor yang paling terdampak karena sebagian besar bahan baku maupun komponen produksinya masih berasal dari luar negeri. Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya impor otomatis meningkat.
Kondisi ini memicu fenomena imported inflation atau inflasi yang berasal dari kenaikan harga barang impor, sehingga beban produksi perusahaan ikut membengkak. Margin keuntungan industri terkait impor pun tergerus drastis karena harga jual ke konsumen domestik tidak dapat dinaikkan secara instan di tengah daya beli yang sensitif.
Menurut Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, depresiasi rupiah telah menciptakan efek polarisasi yang tajam di sektor riil. Di satu sisi terdapat sektor yang memperoleh keuntungan dari penguatan dolar AS, namun di sisi lain banyak industri domestik harus menghadapi kenaikan biaya operasional yang signifikan.
Kenaikan harga kedelai impor juga menjadi perhatian serius. Dengan pelemahan rupiah, harga kedelai terus merangkak naik hingga mencapai Rp10.500 per kilogram. Kenaikan harga bahan baku ini berdampak pada produksi tahu dan tempe, sehingga para perajin tahu dan tempe di Kabupaten Cianjur harus menghentikan produksi karena tingginya harga bahan baku yang tidak sebanding dengan permintaan pasar.
Polres Cianjur juga mengawasi distribusi dan penjualan kedelai untuk mencegah praktik penimbunan yang dapat memperparah kondisi para perajin tahu dan tempe. Kapolres Cianjur, AKBP A Alexander Yurikho Hadi, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan segan mengambil tindakan hukum terhadap pihak-pihak yang memanfaatkan situasi untuk meraup keuntungan secara sepihak.
Dalam situasi ini, pemerintah juga telah mengambil langkah untuk mengatasi dampak pelemahan rupiah. Menko Pangan Zulkifli Hasan menyatakan bahwa ada anggaran cadangan untuk bencana tidak terduga yang dapat digunakan untuk mensubsidi ongkos pengiriman bahan pangan jika harga melonjak.
Menteri Perdagangan Budi Santoso juga menyebutkan bahwa harga pangan saat ini masih relatif normal dan pemerintah menyiapkan intervensi jika ada komoditas yang melampaui Harga Eceran Tertinggi. Namun, respons reaktif berbasis subsidi saja tidak cukup jika akar masalahnya struktural.
Kesimpulan, pelemahan rupiah terhadap dolar AS telah menciptakan efek polarisasi yang tajam di sektor riil. Industri terkait impor, seperti manufaktur, farmasi, dan otomotif, menjadi sektor yang paling terdampak. Dampak pelemahan rupiah juga dirasakan oleh para perajin tahu dan tempe di Kabupaten Cianjur. Pemerintah harus mengambil langkah-langkah yang lebih strategis untuk mengatasi dampak pelemahan rupiah dan meningkatkan daya saing industri domestik.
