Harga Plastik Melonjak 60%: Disdagperin Kalteng Lakukan Sidak Toko dan Dorong Warga Pakai Tas Belanja Sendiri

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 18 April 2026 | Harga plastik kemasan di Kalimantan Tengah mengalami lonjakan signifikan hingga 60 persen akhir-akhir ini, memicu kekhawatiran di kalangan pedagang, konsumen, dan pemerintah daerah. Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Provinsi Kalimantan Tengah, yang dipimpin oleh Kepala Dinas Norhani, menanggapi situasi tersebut dengan serangkaian langkah konkret, termasuk inspeksi mendadak ke beberapa toko plastik di Palangka Raya serta kampanye edukasi penggunaan tas belanja ramah lingkungan.

Kenaikan harga ini diakibatkan oleh berkurangnya pasokan plastik putih atau bening merek Bawang berukuran 15 dan 24, yang selama ini menjadi pilihan utama pedagang pasar tradisional dan toko swalayan. Menurut Norhani, stok yang tersedia masih ada di toko-toko besar, namun distribusi ke wilayah Kalimantan Tengah terhambat karena keterbatasan pengiriman dari supplier utama di Banjarmasin dan Surabaya. “Pengiriman yang terbatas dan tingginya biaya logistik membuat harga plastik naik 50‑60 persen,” ujar Norhani saat diwawancarai di Istana Isen Mulang, Rumah Jabatan Gubernur Kalteng, pada Jumat, 17 April 2026.

Baca juga:

Untuk menilai dampak langsung, tim Disdagperin melakukan sidak ke beberapa toko plastik besar di Palangka Raya. Hasilnya, beberapa toko melaporkan kehabisan stok plastik putih ukuran 15 dan 24, sementara toko lain masih memiliki sisa persediaan yang akan habis dalam waktu dekat. “Beberapa toko masih mencoba menghabiskan stok yang ada, namun belum ada pengiriman baru dari PT KAL di Banjarmasin maupun perusahaan di Surabaya,” jelas Norhani.

Dalam upaya menekan harga dan mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai, Disdagperin Kalteng meluncurkan kampanye “Bawa Tas Belanja Sendiri”. Kampanye ini menekankan pentingnya penggunaan tas belanja ramah lingkungan, seperti tas kanvas, anyaman rotan, atau tas daur ulang, yang dapat mengurangi beban biaya tambahan bagi konsumen. “Kami mengimbau masyarakat agar ketika berbelanja tidak hanya mengandalkan plastik, tetapi membawa tas belanja sendiri. Ini sekaligus menjadi edukasi untuk berpindah ke pola konsumsi yang lebih berkelanjutan,” ungkap Norhani.

Norhani menambahkan bahwa Disdagperin terus melakukan koordinasi intensif dengan para supplier dan distributor plastik untuk menurunkan harga. Namun, tantangan utama terletak pada kelangkaan biji plastik, bahan baku utama pembuatan plastik, yang kini sangat terbatas dan tidak dapat diimpor secara masif karena faktor logistik dan kebijakan perdagangan internasional. “Biji plastik langka, ongkos pengiriman mahal, itulah yang membuat harga naik drastis,” katanya.

Meski demikian, Norhani menegaskan bahwa suplai plastik di Kalimantan Tengah tetap terjaga berkat aliran bahan baku dari Banjarmasin dan Surabaya. Pemerintah daerah berupaya menstabilkan harga dengan menekan biaya logistik dan mendorong diversifikasi sumber bahan baku. “Kami terus bekerja sama dengan pihak terkait agar harga dapat ditekan, sekaligus mengedukasi masyarakat agar tidak terlalu bergantung pada plastik,” tambahnya.

Berbagai pihak masyarakat merespons kampanye Disdagperin dengan beragam cara. Beberapa warung kecil mulai menyediakan kantong kain sebagai alternatif, sementara pedagang pasar tradisional mengajak pelanggan untuk membawa wadah makanan dan minuman sendiri. Di samping itu, LSM lingkungan setempat turut aktif menggelar penyuluhan tentang dampak lingkungan dari penggunaan plastik sekali pakai, serta memberikan pelatihan pembuatan tas daur ulang dari bahan bekas.

Secara keseluruhan, kenaikan harga plastik menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah, pelaku usaha, dan konsumen untuk bersama‑sama mencari solusi yang lebih berkelanjutan. Upaya Disdagperin Kalteng dalam melakukan sidak toko, koordinasi dengan supplier, serta kampanye edukasi penggunaan tas belanja pribadi diharapkan dapat menurunkan beban biaya bagi konsumen sekaligus mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh sampah plastik.

Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan masyarakat Kalimantan Tengah tidak hanya mengatasi lonjakan harga plastik, tetapi juga beralih ke pola konsumsi yang lebih hijau, meminimalkan limbah plastik, dan mendukung upaya nasional dalam pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *