PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 11 Juni 2026 | Nanik S Deyang, perempuan kelahiran Madiun, Jawa Timur, 3 Januari 1968, baru saja dilantik sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) oleh Presiden Prabowo Subianto. Ia memiliki latar belakang pendidikan di bidang biologi dan kehutanan, yang memberikan fondasi kuat baginya dalam memahami isu-isu lingkungan, sumber daya alam, dan kesehatan masyarakat.
Nanik dimulai dari dunia jurnalistik, bekerja sebagai wartawati di Tabloid Bangkit yang berada di bawah Kelompok Kompas Gramedia. Pengalaman sebagai jurnalis senior membentuknya menjadi sosok yang kritis, tegas, dan mampu berkomunikasi dengan baik. Dari dunia media, ia kemudian terjun ke bisnis media dengan memimpin Kelompok Media Peluang (KMP) dan mengelola beberapa majalah.
Kiprah Nanik di dunia politik dimulai sebagai bagian dari tim sukses Prabowo Subianto-Sandiaga Uno pada Pilpres 2019. Perjalanan Nanik ke ranah birokrasi semakin menanjak setelah Prabowo terpilih sebagai Presiden. Pada 2024, ia diangkat sebagai Wakil Kepala I Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan. Kemudian pada Juni 2025, ia menjadi Komisaris Independen PT Pertamina. Pada September 2025, Nanik ditunjuk sebagai Wakil Kepala BGN, sebelum akhirnya naik menjadi Kepala BGN menggantikan Dadan Hindayana pada Juni 2026.
Sebagai Kepala BGN, Nanik menghadapi tantangan besar dalam mengatasi korupsi pada program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia telah menunda penambahan dapur MBG baru dan berencana melakukan evaluasi untuk mengetahui apakah jumlah dapur MBG yang ada sudah cukup untuk melayani penerima manfaat. Satuan Tugas (Satgas) Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Lombok Utara (KLU) masih menunggu petunjuk pelaksanaan petunjuk teknis (juklak/juknis) terkait kebijakan moratorium SPPG yang digaungkan Nanik.
Kuasa Hukum Sony Sonjaya, Elza Syarief, membuka suara soal beredarnya puluhan nama petinggi yang diduga terlibat dalam kasus korupsi tata kelola MBG, termasuk Kepala BGN Nanik S Deyang hingga Ibunda Seskab Teddy Indra Wijaya. Elza mengaku belum mengetahui nama-nama yang disebutkan oleh kliennya, termasuk soal nama Nanik hingga Bima Arya.
Wali Kota Solo, Respati Ardi, mendukung langkah Nanik yang akan menunda penambahan dapur MBG baru. Respati bersyukur, langkah Nanik sejalan dengan aspirasi warga Solo yang menginginkan adanya moratorium penambahan dapur MBG baru. Ia menilai, penundaan ini sebagai langkah menata kembali agar penerima manfaat MBG bisa tepat sasaran.
Di akhir, Nanik S Deyang memiliki tugas besar dalam mengatasi korupsi pada program MBG dan memastikan bahwa program ini bisa berjalan efektif dan efisien. Ia harus bekerja keras untuk memenuhi harapan Presiden dan rakyat Indonesia.
