Megawati Dorong KAA Jilid II: Solusi Baru Hadapi Geopolitik Global

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 19 April 2026 | Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri, mengajukan usulan penting pada peringatan ke-71 Konferensi Asia‑Afrika (KAA). Dalam pidato di Sekolah Partai PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, pada 18 April 2026, ia menekankan perlunya penyelenggaraan KAA Jilid II sebagai respons strategis atas dinamika geopolitik dunia yang semakin kompleks.

Megawati menyoroti bahwa era modern ditandai oleh praktik neo‑kolonialisme, ketimpangan sistem internasional, serta intervensi militer yang mengancam kedaulatan negara‑negara berkembang. Menurutnya, semangat solidaritas yang menjadi fondasi KAA pertama pada tahun 1955 harus dihidupkan kembali lewat KAA Jilid II, agar dapat menjadi platform dialog yang adil bagi negara‑negara Asia‑Afrika.

Baca juga:

Latar Belakang KAA dan Relevansinya Saat Ini

KAA pertama digelar di Bandung pada 1955, mempertemukan 29 negara yang menolak dominasi Barat dan mencari jalur pembangunan mandiri. Sejak itu, perubahan peta politik global—dari Perang Dingin ke era multipolaritas—menuntut mekanisme baru untuk mengatasi tantangan bersama. Megawati berargumen bahwa KAA Jilid II dapat menjadi “kompas geopolitik Bung Karno” yang relevan dalam menghadapi “nekolim modern” dan goncangan geopolitik global.

  • Neo‑kolonialisme ekonomi: dominasi investasi asing yang tidak menguntungkan negara tuan rumah.
  • Ketegangan regional: konflik di Ukraina, Laut China Selatan, dan krisis energi.
  • Ketidaksetaraan dalam lembaga internasional: veto P5 di Dewan Keamanan PBB.

Dengan menyoroti tiga pilar utama tersebut, Megawati mengajak negara‑negara Asia‑Afrika untuk berkoalisi, memperkuat kedaulatan, dan menegosiasikan kembali aturan‑aturan internasional yang dianggap timpang.

Arahan Strategis KAA Jilid II

Menurut rencana yang disampaikan, KAA Jilid II akan mengusung tiga agenda utama:

Baca juga:
  1. Dialog kebijakan luar negeri: Membahas koordinasi respon terhadap konflik berskala besar dan strategi diplomatik kolektif.
  2. Kerjasama ekonomi berkeadilan: Mendorong mekanisme perdagangan yang tidak merugikan, termasuk pembentukan bank pembangunan regional.
  3. Pembangunan berkelanjutan: Menetapkan target iklim bersama, mengintegrasikan teknologi bersih, dan memperkuat ketahanan pangan.

Megawati menegaskan bahwa agenda‑agenda tersebut harus dijalankan dengan prinsip non‑intervensi dan saling menghormati kedaulatan, selaras dengan nilai‑nilai yang diusung oleh pendiri KAA, Bung Karno.

Respon Nasional dan Internasional

Usulan ini mendapat sambutan positif dari sejumlah tokoh politik dan akademisi dalam negeri. Mereka menilai bahwa KAA Jilid II dapat menjadi sarana diplomasi multilateral yang memperkuat posisi Indonesia di panggung dunia. Di sisi lain, beberapa negara besar mengamati dengan cermat, mengingat potensi pergeseran keseimbangan kekuasaan.

Para analis geopolitik menilai bahwa keberhasilan KAA Jilid II sangat tergantung pada kemampuan peserta untuk menyepakati agenda bersama tanpa tekanan eksternal. Jika terwujud, konferensi ini dapat menjadi katalisator bagi reformasi institusi global seperti PBB dan WTO.

Baca juga:

Megawati juga menambahkan bahwa KAA Jilid II tidak hanya sekadar forum dialog, melainkan harus menghasilkan mekanisme konkret, misalnya pembentukan “Forum Kedaulatan Asia‑Afrika” yang akan mengawasi implementasi keputusan konferensi.

Secara keseluruhan, usulan KAA Jilid II mencerminkan tekad Indonesia untuk kembali mengisi peran historisnya sebagai jembatan antara dunia Barat dan Timur, serta memperjuangkan tatanan dunia yang lebih adil dan seimbang.

Dengan menekankan pentingnya solidaritas, kedaulatan, dan keadilan, Megawati mengajak seluruh bangsa Asia‑Afrika untuk bersatu dalam menanggapi tantangan geopolitik modern.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *