PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 21 Juli 2026 | Aleksander Čeferin, Presiden UEFA, memilih untuk memboikot Final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina. Keputusan ini merupakan bentuk protes atas intervensi politik FIFA yang dinilai merusak integritas turnamen.
Salah satu alasan boikot ini adalah kasus Folarin Balogun, pemain Amerika Serikat yang mendapat kartu merah di babak 16 besar melawan Belgia. Namun, FIFA membatalkan suspensi tersebut setelah intervensi langsung dari Presiden AS Donald Trump.
UEFA melihat ini sebagai “garis merah” yang dilanggar—intervensi politik yang tak dapat diterima dalam olahraga. Čeferin dan UEFA mengeluarkan pernyataan tegas menyebut keputusan FIFA “tak bisa dipahami dan tak bisa dibenarkan”.
Hubungan Čeferin dan Infantino sudah tegang sejak lama. Čeferin, yang juga wakil presiden FIFA, kerap kritis terhadap perluasan Piala Dunia menjadi 48 tim. Ia menyebut banyak pertandingan menjadi “tidak menarik” dan turnamen kehilangan kualitas.
Boikot ini mencerminkan perpecahan lebih luas dalam tata kelola sepak bola dunia. UEFA merasa FIFA semakin dipengaruhi kekuasaan politik dan kepentingan komersial, sementara Eropa sebagai pusat kekuatan sepak bola ingin menjaga prinsip netralitas dan sportivitas.
Ketegangan antara UEFA dan FIFA diperburuk oleh keputusan FIFA untuk memperluas Piala Dunia menjadi 48 tim. Čeferin menyebut keputusan ini sebagai “membunuh” sepak bola. Ia juga menentang perluasan Piala Dunia 2026 menjadi 48 tim, dengan alasan banyak pertandingan akan “tidak menarik” dan membebani kalender.
Čeferin jarang hadir di acara FIFA belakangan ini, termasuk kongres sebelumnya. Absennya di final menandakan perlawanan terbuka dan bisa berdampak jangka panjang, seperti potensi boikot lebih besar di masa depan atau reformasi struktur FIFA.
Dalam sebuah pernyataan, Čeferin menyebut bahwa UEFA akan terus memperjuangkan prinsip netralitas dan sportivitas dalam sepak bola. Ia juga menegaskan bahwa UEFA akan terus bekerja sama dengan FIFA untuk meningkatkan kualitas sepak bola dunia.
Kesimpulan, boikot Čeferin terhadap Final Piala Dunia 2026 merupakan bentuk protes atas intervensi politik FIFA yang dinilai merusak integritas turnamen. Ketegangan antara UEFA dan FIFA diperburuk oleh keputusan FIFA untuk memperluas Piala Dunia menjadi 48 tim dan intervensi politik dalam kasus Folarin Balogun.
