Jusuf Kalla Ungkap Megawati Minta Jadi Wakil Presiden, PDIP Tuduh Pengkhianatan dan Luka Lama

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 22 April 2026 | Jusuf Kalla menegaskan dalam sebuah konferensi pers di kediamannya, Jakarta Selatan, bahwa ia pernah diminta oleh Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, untuk menjadi wakil presiden yang mendampingi Presiden Joko Widodo. Pernyataan itu menimbulkan sorotan luas karena sekaligus menyingkap dinamika internal partai dan hubungan pribadi antar tokoh nasional.

Menurut Kalla, permintaan Megawati muncul pada masa transisi setelah pemilihan presiden 2019. “Megawati meminta saya menjadi wakil presiden untuk mendampingi Jokowi,” ungkapnya dengan nada tenang. Ia menambahkan bahwa permintaan tersebut merupakan bentuk kepercayaan Megawati terhadap kemampuan politiknya, sekaligus upaya menjaga stabilitas koalisi antara PDIP dan koalisi pendukung Jokowi.

Baca juga:

Sementara itu, partai yang dipimpin Megawati, PDIP, merespons dengan nada kritis. Pusat Komunikasi PDIP menilai pernyataan Kalla sebagai “pengkhianatan” terhadap perjuangan partai sejak era reformasi. “Kami merasa terluka karena pernyataan ini menyinggung loyalitas partai dan menghidupkan kembali luka lama,” kata juru bicara PDIP dalam sebuah pernyataan tertulis. Kritik tersebut menegaskan bahwa PDIP menganggap keputusan penunjukan wakil presiden seharusnya didiskusikan secara internal, bukan dijadikan bahan komentar publik.

Di sisi lain, Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Presiden Jokowi yang kini menjabat sebagai Wakil Presiden RI, memberikan penghormatan kepada Kalla. Gibran menyebut Kalla sebagai mentor dan idola, menekankan peran senioritas Kalla dalam menavigasi konflik daerah serta membimbing generasi muda. “Pak JK itu senior saya, mentor juga, dan teladan bagi kami semua,” ujar Gibran saat meninjau rumah sakit di Sorong, Papua Barat Daya.

Kalla juga mengingat kembali perannya dalam karier politik Jokowi sejak masa menjadi Wali Kota Solo. Ia mengklaim bahwa inisiatif mengusulkan nama Jokowi kepada Megawati untuk pencalonan gubernur DKI Jakarta menjadi titik balik penting. “Siapa yang bawa Jokowi ke Jakarta? Saya yang bawa dari Solo, untuk jadi gubernur,” tegas Kalla. Ia menambahkan bahwa setelah kemenangan Jokowi, sang gubernur mengunjungi rumahnya untuk menyampaikan terima kasih, menandakan hubungan pribadi yang kuat.

Baca juga:

Pengakuan Kalla tentang peran strategisnya tidak hanya berhenti pada Pilkada DKI 2012. Ia menuturkan bahwa selama masa kepresidenan Jokowi, ia diminta oleh Megawati untuk menjadi “pemandu” atau pendamping politik, memastikan kebijakan pemerintah tetap selaras dengan aspirasi PDIP. Namun, Kalla menegaskan bahwa tidak ada konflik pribadi antara dirinya dan Jokowi, melainkan sinergi politik yang mengutamakan kepentingan nasional.

Reaksi PDIP menyoroti ketegangan antara loyalitas partai dan dinamika koalisi. “Kami tidak akan menoleransi penyebaran narasi yang dapat mengaburkan sejarah perjuangan partai kami,” ujar ketua PDIP. Pernyataan tersebut menegaskan posisi partai dalam menjaga integritas sejarah perjuangan serta menolak interpretasi yang dianggap meremehkan kontribusi anggota partai lain.

Sejumlah pengamat politik menilai pernyataan Kalla sebagai upaya mengukuhkan warisan politiknya menjelang pemilihan umum mendatang. Mereka mencatat bahwa Kalla, yang pernah menjabat sebagai Wakil Presiden dua periode (2004‑2009, 2014‑2019), masih memiliki pengaruh signifikan dalam jaringan politik nasional. Sementara itu, Gibran, sebagai wakil presiden termuda, berusaha menyeimbangkan antara penghormatan terhadap senioritas dan menunjukkan independensi kebijakan.

Baca juga:

Dalam konteks yang lebih luas, pernyataan ini menambah lapisan kompleksitas pada hubungan antara PDIP, koalisi pemerintah, dan tokoh-tokoh veteran. Diskusi publik kini berpusat pada pertanyaan tentang transparansi proses penunjukan wakil presiden dan sejauh mana peran tokoh senior memengaruhi keputusan strategis partai.

Secara keseluruhan, pengakuan Jusuf Kalla tentang permintaan Megawati menjadi wakil presiden membuka kembali babak sejarah politik Indonesia yang melibatkan kolaborasi, pengorbanan, dan terkadang ketegangan antar partai. Reaksi PDIP yang menuding adanya pengkhianatan menandakan sensitivitas luka lama yang masih terasa dalam dinamika politik saat ini. Sementara itu, pujian Gibran terhadap Kalla memperlihatkan betapa pentingnya peran mentor dalam membentuk kepemimpinan generasi baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *