PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 22 Juli 2026 | Prajogo Pangestu, salah satu orang terkaya di Indonesia, berpotensi memperluas bisnis energi terbaruannya ke Filipina. Barito Renewables Energy, perusahaan yang berada di bawah kendalinya, dikabarkan mengajukan penawaran untuk mengakuisisi Energy Development Corp. (EDC), perusahaan panas bumi terbesar di Filipina, dengan valuasi sekitar US$5 miliar.
EDC merupakan pemain utama di sektor energi panas bumi Filipina. Perusahaan yang diakuisisi grup Lopez dari pemerintah Filipina pada 2007 itu mengoperasikan 16 pembangkit listrik panas bumi dengan kapasitas terpasang mencapai 1.302,78 megawatt. Selain itu, EDC juga memiliki portofolio pembangkit energi terbarukan lain, termasuk tenaga air, surya, dan angin, dengan total kapasitas hampir 300 megawatt.
Minat Barito Renewables terhadap EDC sejalan dengan strategi ekspansi Prajogo Pangestu di sektor energi bersih dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023, ia membawa Barito Renewables Energy melantai di bursa bersama perusahaan tambangnya, Petrindo Jaya Kreasi. Melalui Star Energy Geothermal Group, Barito Renewables saat ini mengelola tiga proyek panas bumi di Jawa Barat dengan total kapasitas sekitar 886 megawatt, menjadikannya salah satu produsen listrik panas bumi terbesar di Indonesia.
Ekspansi bisnis Prajogo juga merambah kerja sama regional. Pada 2024, Barito Renewables menggandeng perusahaan energi Filipina ACEN, yang dipimpin Jaime Augusto Zobel de Ayala, untuk mengembangkan proyek pembangkit listrik tenaga angin di Indonesia. Di luar bisnis energi terbarukan, kelompok usaha Prajogo juga memperkuat posisinya di Singapura. Pada April 2025, perusahaan patungan Chandra Asri Pacific dan Glencore menuntaskan akuisisi aset kilang minyak serta petrokimia milik Shell di negara tersebut.
Berdasarkan data real-time Forbes, kekayaan Prajogo Pangestu mencapai sekitar US$15,4 miliar, menempatkannya sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia. Kekayaannya berasal dari Barito Pacific, perusahaan yang awalnya bergerak di sektor kayu sebelum berkembang menjadi grup besar di bidang energi dan petrokimia.
Penawaran akuisisi Barito Renewables Energy terhadap EDC masih bergantung pada proses uji tuntas (due diligence) serta berbagai persetujuan yang diperlukan. First Gen Corp., pemegang saham utama EDC, menyatakan hingga kini belum ada pembahasan resmi yang berlangsung maupun kesepakatan yang ditandatangani antara kedua belah pihak.
Kesimpulan, Prajogo Pangestu berpotensi memperluas bisnis energi terbarunya ke Filipina dengan mengakuisisi EDC, perusahaan panas bumi terbesar di Filipina. Akuisisi ini sejalan dengan strategi ekspansi Prajogo di sektor energi bersih dan merupakan langkah besar dalam memperkuat posisinya di pasar energi Asia Tenggara.
