Hari Bumi 2026: Gaya Hidup Ramah Lingkungan Merajai Kota Bekasi dengan Penanaman 1.000 Pohon Endemik

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 23 April 2026 | 22 April 2026 menandai perayaan Hari Bumi dengan aksi konkret di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Pada hari itu, Cermati Fintech Group bersama Dinas Kehutanan Wilayah 1 Jawa Barat dan perusahaan Kertabumi meluncurkan program penanaman seribu bibit pohon keras di kawasan Hutan Kota Eduforest Setu. Kegiatan ini bukan sekadar simbol, melainkan upaya restorasi lingkungan yang selaras dengan gaya hidup ramah lingkungan yang semakin populer di kawasan perkotaan.

Seribu bibit yang ditanam meliputi lima jenis pohon endemik: jati, mahoni, manggis, pucuk merah, dan sengon. Pemilihan spesies tersebut didasarkan pada kemampuan adaptasi terhadap iklim tropis, daya serap karbon yang tinggi, serta manfaat ekologis jangka panjang bagi masyarakat kota. Lokasi penanaman seluas lima hektar dilengkapi dengan satu hektar alun‑alun dan zona 5.000 meter persegi khusus untuk pembibitan tumbuhan langka, menjadikan Eduforest Setu bukan hanya ruang hijau, melainkan pusat edukasi lingkungan.

Baca juga:

Manfaat masing‑masing jenis pohon dapat dirangkum sebagai berikut:

  • Jati: Memiliki struktur kayu kuat, akar dalam yang meningkatkan penyerapan air dan unsur hara, serta berkontribusi pada stabilitas tanah.
  • Mahoni: Menyediakan naungan sekaligus habitat bagi burung dan fauna kecil, memperkaya keanekaragaman hayati kota.
  • Manggis: Berbuah, memberikan nilai ekonomi tambahan sekaligus menyerap CO₂ secara signifikan.
  • Pucuk Merah: Sering dipakai sebagai pagar hidup, berperan dalam siklus karbon dan pengurangan polusi udara.
  • Sengon: Cepat tumbuh, cocok untuk penyerapan karbon cepat dan rehabilitasi lahan terdegradasi.

CEO Cermati Fintech Group, Andhy Koesnanda, menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari strategi Zero Carbon yang lebih luas. “Bagi kami, aksi menanam pohon bukan sekadar simbol, melainkan komitmen jangka panjang untuk menciptakan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat,” ujarnya dalam sambutan resmi.

Tren gaya hidup hijau kini tidak lagi terbatas pada komunitas aktivis. Menurut data Food and Agriculture Organization (FAO), penanaman pohon di area perkotaan dapat menurunkan suhu udara lokal hingga tiga derajat Celsius, meningkatkan kualitas udara, dan mengurangi risiko kesehatan terkait polusi. WHO pun menegaskan bahwa ruang hijau mengurangi risiko penyakit pernapasan dan meningkatkan kesehatan mental, sehingga investasi pada penghijauan sekaligus menghemat beban biaya kesehatan nasional.

Baca juga:

Pada hari yang sama, Indonesia diguncang oleh gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,5 yang berpusat di laut 78 kilometer utara Pulau Enggano, Provinsi Bengkulu. Meskipun dampaknya terbatas (MMI II), peristiwa tersebut mengingatkan bahwa planet ini tetap rentan terhadap bencana alam, menegaskan pentingnya upaya mitigasi perubahan iklim melalui penghijauan dan pengelolaan risiko.

Sementara itu, hoaks yang menyebutkan “Bumi Gelap Total” berhasil dibantah oleh para ilmuwan. Penjelasan ilmiah menegaskan bahwa tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut, dan bahwa upaya penghijauan seperti penanaman pohon di Eduforest Setu justru memperkuat resilien ekosistem terhadap perubahan iklim.

Di sisi lain, gerakan zero waste juga mendapat sorotan. Pondok Pesantren Minhajurrosyidiin melaporkan bahwa 80 % sampah yang dihasilkan kini dikelola secara mandiri melalui program Zero Waste, memperlihatkan bahwa komunitas keagamaan sekaligus dapat menjadi contoh praktik berkelanjutan.

Baca juga:

Keseluruhan rangkaian kegiatan pada Hari Bumi 2026 menunjukkan pergeseran paradigma dari aksi simbolik ke tindakan terukur. Penanaman seribu pohon endemik di Bekasi, penolakan hoaks, serta penerapan zero waste di lembaga pendidikan menandai langkah konkrit menuju masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *