Sabah Baku dan Ancaman Perubahan Iklim

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 30 Juli 2026 | Sabah Baku baru saja mengalahkan KuPS dalam pertandingan Champions League, namun di balik kemenangan itu, ada ancaman yang lebih besar yang menghadang, yaitu perubahan iklim. Perubahan iklim telah menjadi ancaman serius bagi negara-negara yang rentan dan terkena dampak konflik.

Turki, yang akan menjadi tuan rumah COP31, memiliki kesempatan untuk memfokuskan perhatian pada salah satu blind spot terbesar dalam aksi iklim, yaitu kegagalan untuk mencapai masyarakat yang hidup di tengah konflik, kerapuhan, dan transisi yang sulit.

Baca juga:

Negara-negara yang rentan dan terkena dampak konflik, seperti Irak, Lebanon, Palestina, dan Yaman, secara konsisten menduduki peringkat sebagai negara-negara yang paling rentan terhadap perubahan iklim. Hal ini disebabkan oleh konflik dan lemahnya institusi yang telah mengerosi infrastruktur, layanan, dan sistem sosial yang dibutuhkan masyarakat untuk mempersiapkan dan pulih dari bencana alam.

Meskipun demikian, kondisi ini sering kali membuat investor dan mitra pembangunan enggan untuk berinvestasi dan bekerja di negara-negara tersebut, sehingga mengakibatkan kesenjangan antara kebutuhan dan dukungan yang semakin melebar.

Di Somalia, misalnya, negara tersebut hanya menerima sekitar $300 juta per tahun dalam bantuan iklim, yang hanya sekitar seperempat dari kebutuhan yang diidentifikasi dalam rencana iklim nasional. Sementara itu, antara 2011 dan 2023, Somalia menerima rata-rata $1,1 miliar per tahun dalam bantuan kemanusiaan.

Ini menunjukkan bahwa sistem internasional masih lebih siap untuk merespons krisis iklim daripada untuk berinvestasi dalam mengurangi risiko yang menyebabkannya. Namun, Somalia, seperti negara-negara lain, tidak bisa menunggu sampai bencana iklim selanjutnya untuk mendapatkan dukungan.

Baca juga:

Perubahan iklim diperkirakan telah menyebabkan sekitar setengah dari total 20.300 kematian manusia yang terkait dengan banjir atau kekeringan di Somalia antara 2000 dan 2021. Tanpa investasi yang lebih besar dalam adaptasi, kerugian dan kerusakan yang terkait dengan iklim dapat mencapai $100 miliar pada 2050.

Oleh karena itu, COP31 menawarkan kesempatan bagi Turki untuk meninggalkan warisan yang nyata dengan membuat keuangan iklim lebih mudah diakses dan disampaikan di negara-negara yang rentan.

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah melihat peningkatan perhatian politik terhadap isu ini, dengan deklarasi yang ditandatangani di Dubai selama COP28 dan Baku selama COP29, serta pembentukan jaringan iklim baru yang dipimpin oleh negara-negara yang rentan pada 2024.

Namun, keuangan adaptasi masih kekurangan dana, sementara arus keuangan iklim global semakin terancam. Momentum tidak bisa diambil begitu saja.

Baca juga:

Oleh karena itu, Turki harus menggunakan COP31 untuk mengamankan komitmen konkrit terhadap perubahan ini dan memastikan bahwa mereka diikuti setelah pertemuan tersebut.

Kesimpulan, ancaman perubahan iklim tidak bisa diabaikan, dan negara-negara yang rentan dan terkena dampak konflik membutuhkan dukungan yang lebih besar untuk menghadapi tantangan ini. Dengan demikian, COP31 merupakan kesempatan bagi Turki untuk meninggalkan warisan yang nyata dalam aksi iklim dan membantu negara-negara yang membutuhkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *