PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 02 Agustus 2026 | Dunia seni rupa Indonesia berduka atas berpulangnya Maestro Nasirun, salah satu perupa terkemuka Tanah Air. Seniman yang dikenal dengan karya-karyanya yang mendunia ini menghembuskan napas terakhirnya pada Sabtu (1/8) pagi. Kepergiannya meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga, sahabat, dan seluruh komunitas seni.
Ratusan pelayat memadati kompleks Perum Bayeman Permai, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), tempat jenazah Nasirun disemayamkan. Karangan bunga berjejer panjang, mengiringi lantunan ayat suci Al-Qur’an yang menggema dari rumah duka.
Di balik reputasinya yang mendunia, Maestro Nasirun dikenal sebagai pribadi yang sederhana, ramah, dan tidak pernah merepotkan orang lain. Ketenarannya tidak pernah mengubah cara ia memandang sesama, menjadikannya tetap membumi meski karyanya melanglang buana.
Jumaldi Alfi Chaniago, rekan sesama seniman sekaligus adik tingkat Nasirun saat menempuh pendidikan di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), yang kini menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, mengenal dekat sosok ini. Bagi Alfi, Nasirun adalah pribadi yang sangat rendah hati, tidak pernah besar kepala saat dipuji, dan tidak sakit hati ketika dicela.
Alfi menggambarkan Nasirun sebagai “orang yang sudah lost stang” atau “orang yang sudah selesai dengan dirinya” dalam dunia tasawuf. Ia tidak terikat pada hal-hal duniawi, bahkan membalas celaan dengan tawa. Selain kerendahan hatinya, Nasirun juga dikenal gemar berbagi dan memiliki perhatian besar kepada seniman muda.
Kepergian Maestro Nasirun menjadi kejutan bagi banyak pihak, termasuk Jumaldi Alfi Chaniago yang tinggal berdekatan dengannya. Alfi mengaku terakhir bertemu Nasirun pada Jumat sore dan sempat berbincang seperti biasa. Kabar duka yang datang secara tiba-tiba membuatnya benar-benar terkejut.
Sehari sebelumnya, mereka masih sempat berbincang seperti biasa. Bahkan, dua hari sebelumnya mereka masih menghadiri sebuah pameran seni dan saling bercanda. Meski demikian, Alfi mengakui sempat melihat kondisi fisik Nasirun tampak kurang sehat dalam beberapa hari terakhir.
Nasirun meninggal dunia pada usia 65 tahun. Ia meninggalkan seorang istri dan tiga anak. Rencananya, jenazah dimakamkan di Taman Makam Seniman dan Budayawan Giri Sapto, Imogiri, Bantul.
Bagi banyak orang, Nasirun bukan hanya dikenal lewat karya-karya lukisnya yang telah dipamerkan hingga mancanegara. Ia juga dikenang sebagai pribadi yang rendah hati, murah senyum, dan tak pernah membeda-bedakan orang.
Pelukis Jumaldi Alfi, yang mengenal Nasirun sejak menjadi seniornya di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada awal 1990-an, mengenang almarhum sebagai sosok yang telah ‘selesai dengan dirinya sendiri’. “Beliau orang yang dipuji tidak akan besar kepala, dimaki tidak akan sakit hati. Orang yang sudah los stang. Kalau dalam dunia tasawuf itu orang yang sudah selesai dengan dirinya,”
Kabar wafatnya pelukis kelahiran Cilacap, Jawa Tengah, itu pertama kali menyebar melalui unggahan sejumlah sahabat dan kerabat. Penulis Agus Noor mengungkapkan rasa kehilangan atas sosok yang dikenalnya sebagai pribadi sederhana dan penuh kebaikan.
Kepergian Maestro Nasirun meninggalkan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi para seniman, murid, kolega, dan pecinta seni di Tanah Air. Ia akan selalu dikenang sebagai sosok yang rendah hati, murah senyum, dan tak pernah membeda-bedakan orang.
