Serangan Bersenjata di Lokasi Piknik Herat, Afghanistan Tewaskan 11 Warga Sipil

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 13 April 2026 | Sejumlah pria bersenjata menyerang warga sipil yang sedang beraktivitas rekreasi di sebuah lokasi piknik di desa Deh Mehri, distrik Enjil, provinsi Herat, Afghanistan, pada Jumat, 10 April 2026. Insiden tersebut menewaskan sedikitnya sebelas orang, termasuk perempuan dan anak-anak, serta melukai beberapa korban lainnya yang kemudian meninggal dunia di rumah sakit.

Menurut pernyataan Ahmadullah Muttaqi, kepala informasi dan kebudayaan provinsi yang dikelola pemerintahan Taliban, serangan terjadi sekitar pukul 15.00 waktu setempat. Empat pelaku datang dengan mengendarai sepeda motor, memotong jalur sekelompok warga yang tengah menikmati waktu bersantai di area piknik yang terletak dekat tempat suci milik komunitas Muslim Syiah. Setelah menghentikan kelompok tersebut, para penyerang merampas uang, ponsel, dan perhiasan milik korban sebelum memisahkan laki‑laki dan perempuan serta menembakkan senjata secara beruntun.

Seorang saksi mata menjelaskan, “Mereka mengambil semuanya terlebih dahulu, lalu mulai menembak. Kami berusaha melarikan diri, tetapi mereka menembak ke arah kami.” Setelah melancarkan aksi, para pelaku melarikan diri menggunakan sepeda motor mereka. Salah satu tersangka berhasil ditangkap oleh pasukan keamanan setempat, sementara tiga lainnya masih dalam proses pencarian.

Korban yang tewas merupakan anggota komunitas Syiah, sebuah minoritas yang sering menjadi target serangan sektarian di Afghanistan. Dokter yang menangani korban di rumah sakit Herat menyebutkan bahwa mayoritas yang meninggal adalah wanita dan anak-anak yang sedang berkunjung ke lokasi suci untuk piknik. “Mereka tidak bersalah, hanya ingin menghabiskan waktu bersama keluarga,” ungkap dokter tersebut.

Serangan ini belum diklaim oleh kelompok manapun. Juru bicara Kementerian Dalam Negeri, Abdul Mateen Qani, menegaskan bahwa pelaku masih dalam penyelidikan dan belum ada kelompok terorganisir yang mengaku bertanggung jawab. Namun, sejumlah analis menilai bahwa motifnya mungkin berkaitan dengan kebencian sektarian terhadap komunitas Hazara dan Syiah, yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi sasaran kelompok ekstremis seperti ISIS‑K.

Serangan serupa telah terjadi berulang kali sejak penarikan pasukan internasional pada tahun 2021. Laporan Perserikatan Bangsa‑Bangsa (PBB) dan organisasi pemantau independen mencatat puluhan insiden serangan terhadap masjid, sekolah, dan tempat umum yang menargetkan komunitas Syiah di Afghanistan antara 2021 hingga 2024, menewaskan ratusan warga sipil dan menyebabkan trauma luas.

Reaksi politik pun tidak terelakkan. Mantan Presiden Afghanistan, Hamid Karzai, mengutuk keras aksi tersebut, menyebutnya tindakan tidak manusiawi yang menambah penderitaan warga sipil. “Kita tidak boleh membiarkan kekerasan sektarian melukai anak‑anak kita. Pemerintah harus memastikan keamanan semua warga, tanpa memandang agama,” tegas Karzai dalam sebuah pernyataan publik.

Pemerintah Taliban di Herat menyatakan komitmen untuk meningkatkan keamanan di daerah rawan konflik. Muttaqi menambahkan, “Kami akan melakukan penyelidikan menyeluruh dan meningkatkan patroli di area publik untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.” Namun, masyarakat setempat tetap khawatir mengingat sejarah panjang ketegangan sektarian di provinsi tersebut.

Selain dampak kemanusiaan, serangan ini menimbulkan kekhawatiran internasional tentang stabilitas Afghanistan pasca‑penarikan pasukan asing. Observers mencatat bahwa serangan terhadap minoritas agama dapat memperparah fragmentasi sosial dan meningkatkan risiko radikalisme di wilayah tersebut.

Dengan satu tersangka sudah diamankan, proses penyelidikan akan berlanjut untuk mengidentifikasi dan menangkap tiga pelaku lainnya. Sementara itu, keluarga korban masih menunggu keadilan dan dukungan pemulihan bagi mereka yang selamat namun trauma akibat peristiwa mengerikan ini.

Serangan di Herat ini menegaskan kembali kebutuhan mendesak akan perlindungan hak asasi manusia, penegakan hukum, serta upaya rekonsiliasi antar‑agama di Afghanistan, agar warga sipil dapat kembali menikmati kehidupan sehari‑hari tanpa ancaman kekerasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *