PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 25 April 2026 | Timnas U-17 Indonesia kembali berlatih intensif di Lapangan A Gelora Bung Karno, Senayan, menjelang partisipasinya di AFC U-17 Asian Cup 2026 yang akan digelar di Arab Saudi. Fokus utama pelatih Kurniawan Dwi Yulianto adalah memperbaiki mental pemain serta meningkatkan kemampuan finishing, dua aspek yang menjadi sorotan setelah kegagalan tim pada Piala AFF 2026.
Keputusan tim untuk mengadakan sesi latihan terakhir pada 5-22 Mei 2026 tidak terlepas dari evaluasi menyeluruh pasca kekalahan di semifinal AFF. Kekalahan tersebut menurunkan kepercayaan diri sebagian besar pemain Garuda Muda, sehingga memicu kebutuhan mendesak untuk mengembalikan semangat juang. Kurniawan menegaskan, “Hasil kemarin sangat mengecewakan dan cukup memukul mental pemain, namun kami tidak bisa berlama‑lama terpuruk karena sudah ada turnamen penting di depan.”
Selama konferensi pers di GBK pada 24 April 2026, sang pelatih menjelaskan bahwa seluruh elemen tim—dari ofisial hingga pendukung—telah berkoordinasi untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pemulihan psikologis. “Kami mengundang psikolog olahraga, mengadakan sesi sharing antar pemain senior dan junior, serta memberikan waktu istirahat yang cukup agar tekanan tidak menumpuk,” ungkapnya.
Latihan yang dijadwalkan selama dua minggu ke depan tidak hanya menitikberatkan pada kebugaran fisik, melainkan juga pada variasi taktik. Menurut Kurniawan, lawan‑lawan di tingkat Asia menampilkan gaya permainan yang beragam, sehingga Garuda Muda harus siap dengan beberapa skema taktik, mulai dari formasi menyerang 4‑3‑3 hingga pendekatan lebih defensif 4‑5‑1. “Kami mencoba menyiapkan beberapa skema taktik karena setiap lawan punya gaya bermain berbeda. Jadi kami harus siap dengan berbagai kemungkinan di lapangan,” tambahnya.
Poin krusial lainnya adalah penyelesaian akhir. Pada dua pertandingan persahabatan terakhir, Garuda Muda berhasil menciptakan banyak peluang namun belum mampu mengkonversinya menjadi gol. Kurniawan mencontohkan kegagalan finishing saat melawan Malaysia di Piala AFF, di mana pemain cenderung terburu‑buru ketika tertinggal. “Finishing menjadi evaluasi utama kami. Peluang ada, tapi belum bisa dimaksimalkan. Selain itu, fighting spirit juga harus meningkat saat game plan tidak berjalan,” jelasnya.
Untuk mengatasi masalah tersebut, tim pelatih merancang serangkaian latihan khusus, antara lain:
- Simulasi situasi 1‑law‑1‑2 dan 2‑law‑1‑1 untuk meningkatkan akurasi tembakan.
- Latihan teknik penempatan bola di dalam kotak penalti dengan tekanan waktu.
- Sesi video analisis terhadap gol‑gol efektif tim-tim Asia terbaik.
Dari sisi mental, selain konseling, pelatih menekankan pentingnya kebersamaan di luar lapangan. Kegiatan kebugaran bersama, kunjungan ke sekolah sepakbola, dan sesi motivasi dari mantan pemain Garuda menjadi bagian dari program pemulihan. “Kebersamaan menciptakan rasa memiliki. Pemain yang merasa dihargai akan lebih mudah bangkit dari kekecewaan,” ujar Kurniawan.
Menjelang AFC U-17 Asian Cup, target realistis tim adalah menembus babak semifinal. Dengan mental yang lebih kuat, taktik yang fleksibel, dan kemampuan finishing yang telah terasah, Garuda Muda diharapkan dapat bersaing dengan negara‑negara kuat seperti Jepang, Korea Selatan, dan Iran. “Kami tidak menutup peluang untuk menjuarai turnamen ini, namun yang terpenting adalah menunjukkan perkembangan nyata dari proses perbaikan yang kami lakukan,” tutup pelatih.
Secara keseluruhan, upaya perbaikan mental dan taktik yang digencarkan oleh Timnas U-17 Indonesia menunjukkan komitmen kuat untuk mengubah kegagalan menjadi pelajaran berharga. Jika proses ini berjalan konsisten, Garuda Muda berpeluang besar menorehkan prestasi gemilang di panggung Asia pada tahun 2026.
