Dedi Mulyadi Ungkap: Antrean ASN Membelit Lulusan, Lapangan Kerja di Luar Terbuka Lebar!

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 25 April 2026 | JAKARTA – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyoroti masalah lama yang kian menggerogoti pasar kerja muda: ribuan lulusan perguruan tinggi menghabiskan waktu menunggu posisi di sektor administrasi, baik sebagai ASN, honorer, maupun Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Sementara itu, peluang ekonomi di sektor pariwisata, kebudayaan, agroindustri, dan pengolahan sumber daya alam masih lepas dari perhatian utama.

Menurut Dedi Mulyadi, fenomena ini bukan sekadar statistik angka pengangguran, melainkan cerminan kegagalan sistem pendidikan formal dalam menyiapkan generasi yang siap beradaptasi dengan kebutuhan pasar. “Sekolah selalu membangun pikiran untuk kerja pada sektor formal. Akhirnya, mereka ngantri di pabrik, antre jadi ASN, atau menjadi tenaga honorer. Padahal, lapangan kerja di luar itu terbuka lebar,” ujarnya dalam konferensi pers di Gedung Pakuan, Bandung, Rabu (30 April 2026).

Baca juga:

Data Pengangguran Tinggi di Kalangan Lulusan Tinggi

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada kuartal pertama 2026, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di kalangan lulusan S1 dan S2 di Jawa Barat mencapai 12,7 persen, lebih tinggi dua kali lipat dibandingkan dengan lulusan SMA. Lowongan kerja sektor formal seperti birokrasi, perbankan, dan perusahaan multinasional terbatas, sehingga banyak pemuda terpaksa menunggu dalam antrean panjang untuk posisi yang tersedia.

Revitalisasi Pendidikan Vokasi sebagai Solusi

Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama kementerian terkait telah merumuskan program revitalisasi pendidikan vokasi. Program ini menekankan kurikulum yang terintegrasi dengan industri, magang berbayar, serta pembentukan pusat pelatihan berbasis daerah. Tujuannya agar lembaga vokasi tidak hanya menjadi jalur alternatif, tetapi menjadi pintu gerbang utama menuju sektor ekonomi yang belum tergarap.

Contoh inisiatif yang sudah berjalan antara lain:

Baca juga:
  • Pengembangan program pelatihan anyaman tradisional di daerah Ciamis, dengan dukungan pasar ekspor.
  • Kerjasama antara Politeknik Negeri Bandung (Polban) dan perkebunan kopi di Garut untuk melatih ahli agronomi dan manajemen kebun.
  • Pendirian pusat inovasi kuliner tradisional di Bandung yang menghubungkan mahasiswa jurusan pariwisata dengan pelaku usaha UMKM.

Peluang Ekonomi di Luar Sektor Formal

Sektor pariwisata budaya, ekowisata, dan industri kreatif menunjukkan pertumbuhan tahunan rata-rata 8,5 persen selama tiga tahun terakhir. Di samping itu, sektor agroindustri—terutama pengolahan hasil pertanian seperti olahan kopi, teh, serta produk pangan tradisional—menyerap tenaga kerja dengan kompetensi teknis yang dapat dipelajari melalui program vokasi.

Para pengamat menilai bahwa diversifikasi lapangan kerja tidak hanya mengurangi tekanan pada birokrasi, tetapi juga meningkatkan kemandirian ekonomi daerah. “Jika kita terus menumpuk aspirasi pada satu pintu masuk, maka sistem akan runtuh. Memperluas horizon kerja di luar sektor formal adalah langkah strategis untuk mengatasi pengangguran terstruktur,” ujar Prof. Rina Susanti, pakar ekonomi pembangunan Universitas Padjadjaran.

Langkah Konkret Pemerintah Pusat dan Provinsi

Pemerintah pusat menambahkan anggaran sebesar Rp 1,2 triliun dalam APBN 2026 untuk program vokasi, yang akan dialokasikan ke 34 provinsi, termasuk Jawa Barat. Di tingkat provinsi, Dedi Mulyadi mengumumkan pembentukan “Forum Inovasi Kerja” yang melibatkan perwakilan industri, perguruan tinggi, dan asosiasi pekerja. Forum ini akan meninjau kebutuhan kompetensi setiap sektor dan menyelaraskan kurikulum vokasi secara dinamis.

Baca juga:

Selain itu, pemerintah berencana meluncurkan portal digital yang memetakan peluang kerja non‑formal, termasuk proyek kontrak jangka pendek, usaha mikro, serta peluang ekspor produk lokal. Portal ini diharapkan menjadi referensi utama bagi lulusan yang ingin menjelajahi karir di luar jalur birokrasi.

Upaya revitalisasi ini juga mencakup kampanye publik yang menekankan nilai kebanggaan bekerja di sektor tradisional dan kreatif. Dedi Mulyadi menambahkan, “Kita harus mengubah mindset bahwa pekerjaan di luar ASN atau perusahaan besar tidak kalah prestisius. Justru, mereka membuka jalan bagi inovasi dan kemandirian ekonomi lokal.”

Dengan kombinasi kebijakan fiskal, penguatan lembaga vokasi, dan promosi pasar kerja yang lebih luas, diharapkan gelombang antrean pekerjaan di sektor administratif dapat berkurang, sementara peluang ekonomi di luar formalitas semakin mengalir. Generasi muda Jawa Barat diharapkan dapat menemukan jalur karir yang sesuai dengan potensi dan minat mereka, bukan sekadar menunggu panggilan dari birokrasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *