PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 29 April 2026 | Jakarta, 28 April 2026 – Pemerintah Israel mengirimkan sistem pertahanan udara Iron Dome beserta puluhan personel militer ke Uni Emirat Arab (UEA) pada awal konflik melawan Iran. Keputusan diambil oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu setelah pembicaraan langsung dengan Presiden UEA Mohammed bin Zayed. Penempatan Iron Dome menandai pertama kalinya teknologi pertahanan tersebut beroperasi di luar wilayah Israel dan Amerika Serikat, sekaligus menegaskan komitmen militer bersama antara kedua negara.
Menurut laporan militer, baterai Iron Dome yang dipindahkan ke pangkalan strategis di Abu Dhabi berhasil mencegat puluhan rudal balistik dan jelajah yang diluncurkan Iran menuju wilayah UEA. Data resmi Kementerian Pertahanan UEA mencatat bahwa Iran menembakkan sekitar 550 rudal balistik serta lebih dari 2.200 drone dalam serangkaian serangan besar-besaran. Mayoritas proyektil berhasil dihentikan oleh Iron Dome, namun sejumlah kecil masih menembus pertahanan dan menabrak fasilitas militer serta sipil, termasuk hotel mewah Burj Al Arab dan bandara Dubai.
Selain sistem pertahanan, Angkatan Udara Israel melancarkan operasi udara balasan ke wilayah selatan Iran. Pesawat tempur Israel menargetkan peluncur rudal jarak pendek serta infrastruktur militer lainnya untuk menghentikan aliran proyektil lebih lanjut ke UEA dan negara-negara Teluk lainnya. Serangan udara ini dipandang sebagai upaya preventif yang memperkecil risiko eskalasi lebih luas di kawasan Teluk Persia.
- 550 rudal balistik dan jelajah diluncurkan Iran
- 2.200+ drone Iran menyerang wilayah UEA
- Iron Dome berhasil mencegat sebagian besar ancaman udara
- Israel melakukan serangan balasan ke peluncur rudal di Iran selatan
Keberhasilan Iron Dome di luar negeri menambah dimensi baru dalam hubungan pertahanan antara Israel dan UEA, yang telah resmi terjalin sejak penandatanganan Perjanjian Abraham pada tahun 2020. Mantan pejabat Dewan Keamanan Nasional UEA, Tareq al‑Otaiba, menyatakan penghargaan tinggi terhadap bantuan Israel, menyebut Amerika Serikat dan Israel sebagai sekutu sejati yang memberikan dukungan militer ekstensif. Pengiriman sistem pertahanan ini juga memperoleh dukungan dari sekutu Barat lain, termasuk Prancis, Inggris, Italia, dan Australia, yang masing‑masing menyumbangkan peralatan dan intelijen.
Di sisi lain, Iran menargetkan pusat keuangan UEA sebagai bagian dari strategi menekan Amerika Serikat dan sekutunya secara ekonomi. Serangan ke zona finansial Dubai dan Abu Dhabi dimaksudkan untuk mengganggu aliran dana internasional serta menimbulkan ketidakstabilan pasar global. Meskipun sebagian besar rudal berhasil dicegat, kerusakan pada fasilitas kritis tetap menimbulkan kekhawatiran tentang kesiapan pertahanan regional.
Para analis menilai bahwa penempatan Iron Dome di UEA mencerminkan pergeseran strategis dalam keamanan Timur Tengah. Israel kini tidak lagi hanya melindungi wilayah domestiknya, melainkan juga memperluas zona operasional ke negara sahabat untuk mengamankan jalur perdagangan dan energi. Kerjasama militer ini diproyeksikan akan berlanjut, dengan kemungkinan penambahan sistem pertahanan tambahan dan peningkatan koordinasi intelijen antara Tel Aviv dan Abu Dhabi. Dalam konteks geopolitik yang semakin kompleks, kehadiran Iron Dome di luar Israel menjadi simbol kekuatan aliansi baru yang mampu menahan tekanan eksternal.
Secara keseluruhan, pengiriman Iron Dome ke UEA menegaskan komitmen bersama Israel‑UEA dalam menghadapi ancaman Iran, memperkuat jaringan pertahanan regional, dan menandai langkah penting dalam evolusi keamanan Timur Tengah pasca‑Perjanjian Abraham.
