Aksi Buruh DPR Geruduk Gedung dengan Rudal Buatan, Bendera One Piece, Tuntutan Upah Layak dan RUU Ketenagakerjaan

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 02 Mei 2026 | Ribuan buruh menggebrak gerbang utama Gedung DPR/ MPR Senayan pada Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional. Massa yang dipimpin oleh Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) dan Gerakan Buruh Bersama Rakyat (GEBRAK) tiba sejak siang hari, mengenakan seragam berwarna merah dan biru, sambil mengibarkan bendera bergambar karakter anime One Piece yang melambangkan semangat persatuan.

Kelompok inti aksi membawa replika rudal dan roket yang dibuat dari kayu, kertas, serta cat tembaga. Rudal tersebut digantung di bahu para demonstran dengan tulisan “Stop WAR” yang menjadi simbol penolakan terhadap konflik bersenjata dan kebijakan militeristik. Di belakang barisan, mobil komando lengkap dengan pengeras suara berkeliling menyiapkan orasi bergantian, sementara spanduk‑spanduk berisi tuntutan “May Day Lawan Kapitalisme, Imperialisme, dan Militerisme”, “Wujudkan Upah, Kerja, dan Hidup Layak”, serta “Cabut Keanggotaan Indonesia dari Board Of Piece” menguasai pandangan publik.

Baca juga:

Para pekerja, mahasiswa, pengemudi ojek online, dan aktivis masyarakat sipil lainnya menumpuk di depan gedung hingga puncak siang. Pada pukul 13.20 WIB, ribuan demonstran mulai berbaris perlahan sambil melantunkan yel‑yel, menciptakan suasana yang teratur namun penuh semangat. Mobil‑mobil komando (mokom) berfungsi sebagai panggung mobilitas, memungkinkan orator menyampaikan pidato secara bergantian tanpa mengganggu kelancaran arus lalu lintas di Jalan Gatot Subroto.

Ketua Umum KASBI, Sunarno, menyampaikan bahwa aksi ini bertujuan menekan DPR agar segera menyelesaikan Rancangan Undang‑Undang (RUU) Ketenagakerjaan pasca putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 168 tentang Undang‑Undang Cipta Kerja. “DPR diperintahkan membentuk undang‑undang ketenagakerjaan yang baru, melibatkan unsur serikat buruh, dan menghapuskan kebijakan outsourcing yang merugikan pekerja,” ujar Sunarno. Ia menambahkan bahwa jumlah peserta diperkirakan mencapai sepuluh ribu orang, berasal dari Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.

Polisi Metro Jakarta Pusat menyiagakan personel di titik‑titik strategis, memastikan situasi tetap aman, tertib, dan kondusif. Kombes Pol Reynold E.P. Hutagalung menyatakan, “Kami mengawal aksi ini dan mengimbau seluruh peserta untuk menjaga ketertiban serta mematuhi peraturan yang berlaku.” Hingga sore, tidak ada laporan kerusuhan signifikan, meskipun beberapa kelompok menggelar aksi simbolik dengan menyalakan api kecil di area yang telah ditentukan.

Baca juga:

Berikut adalah beberapa tuntutan utama yang disuarakan selama aksi:

  • Pengesahan dan implementasi RUU Ketenagakerjaan yang melindungi hak pekerja, termasuk jaminan upah layak, pesangon, dan keamanan kerja.
  • Pencabutan Undang‑Undang Cipta Kerja (Omnibus Law) serta penghapusan sistem outsourcing yang dianggap menimbulkan ketidakpastian kerja.
  • Reformasi sistem pengupahan untuk menutup kesenjangan upah antara sektor formal dan informal.
  • Penerapan jam kerja yang manusiawi, pengaturan lembur yang adil, dan jaminan BPJS Ketenagakerjaan yang menyeluruh.
  • Penolakan kapitalisme, imperialisme, dan militerisme yang dianggap memperburuk kondisi pekerja.

Selain orasi politik, aksi juga diiringi oleh musik dari band-band independen seperti Black Horses, The Brandals, dan Efek Rumah Kaca, menambah nuansa semangat solidaritas di antara para peserta. Beberapa peserta menutup aksi dengan menyanyikan lagu-lagu perjuangan buruh, menandai akhir demonstrasi yang berlangsung hingga sore hari.

Penggunaan atribut kapal dan bendera One Piece menambah warna unik pada aksi, mencerminkan kreativitas para demonstran dalam menyampaikan pesan melalui simbol budaya pop. Menurut pengamat gerakan sosial, simbol tersebut dipilih untuk menegaskan keinginan akan kebebasan, petualangan, dan solidaritas melampaui batas-batas tradisional.

Baca juga:

Dengan berakhirnya aksi, para penyelenggara menegaskan komitmen untuk melanjutkan dialog dengan DPR dan pemerintah, sambil tetap menyiapkan aksi lanjutan jika tuntutan tidak terpenuhi. Keberhasilan aksi ini terletak pada kemampuan massa untuk mengorganisir diri secara terstruktur, menyampaikan pesan secara damai, serta menarik perhatian publik dan pembuat kebijakan.

Situasi di lapangan tetap dipantau oleh aparat keamanan, dan hingga penulisan laporan ini tidak ada laporan penangkapan massal atau kerusakan properti signifikan. Aksi ini menjadi catatan penting dalam sejarah pergerakan buruh Indonesia, menandai keberanian ribuan pekerja dalam menuntut keadilan sosial di era pasca‑pandemi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *