PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 05 Mei 2026 | Selebgram Clara Shinta mengumumkan secara terbuka bahwa ia telah memutuskan untuk tidak lagi tinggal serumah dengan suaminya, Muhammad Alexander Assad, setelah mengungkap bukti video call tak senonoh (VCS) yang melibatkan sang suami dengan perempuan lain. Keputusan itu diambil pada awal Mei 2026, menjelang proses perceraian yang kini tengah digulirkan di Pengadilan Agama Jakarta Selatan.
Pengakuan Clara muncul bersamaan dengan kunjungan ke Kantor Komnas Perempuan di Menteng, Jakarta Pusat, di mana ia melaporkan kasus tersebut dan menyampaikan bahwa ia telah menerima somasi hukum dari pihak suami. Clara menegaskan bahwa semua komunikasi dengan Alexander kini hanya melalui kuasa hukum masing‑masing, demi menghindari pertikaian yang berulang dan menjaga kestabilan emosinya.
Berbagai media mengonfirmasi bahwa konflik berawal ketika Clara menemukan suaminya sedang melakukan VCS dengan Tri Indah Ramadhani pada saat liburan di Bangkok. Penemuan tersebut memicu pergulatan hukum, tekanan publik, hingga dampak psikologis yang signifikan bagi Clara, yang kemudian memilih untuk menjalani perawatan rutin di bawah pengawasan psikiater.
“Saya sudah minum obat selama dua minggu terakhir dan kini merasa lebih kuat serta tenang saat berbicara di depan publik,” ujar Clara dalam pernyataan kepada wartawan. “Jika tidak, mungkin saya tidak sanggup menghadapi semua ini.”
Berikut rangkuman langkah‑langkah yang diambil Clara sejak mengungkap perselingkuhan:
- Memutuskan untuk tidak lagi tinggal serumah dengan suami, menghindari konflik langsung.
- Mengalihkan semua komunikasi melalui kuasa hukum, Sunan Kalijaga, untuk menjaga netralitas.
- Melaporkan kasus ke Komnas Perempuan sebagai bentuk perlindungan hak perempuan.
- Menjalani perawatan psikiater dan rutin mengonsumsi obat penenang selama dua minggu terakhir.
- Menghadapi proses perceraian di Pengadilan Agama Jakarta Selatan.
Selain dampak emosional, Clara mengakui bahwa masalah ini berpengaruh pada produktivitasnya sebagai pengusaha. “Mood kerja saya benar‑benar menurun, hampir nol total. Saya jadi lebih banyak menghabiskan waktu di kamar, meski tetap harus memposting story di media sosial,” ungkapnya. Hal ini menandakan betapa beratnya beban psikologis yang harus ditanggungnya.
Anak‑anak mereka, yang masih di bawah umur, juga mulai merasakan perubahan. Clara menyatakan keprihatinan bahwa kehadiran ayah yang jarang di rumah membuat mereka sedih, sehingga keputusan pisah rumah diharapkan dapat meminimalisir dampak emosional lebih lanjut pada anak‑anak.
Kasus ini juga memunculkan tuduhan somasi dari pihak suami, yang menuntut ganti rugi miliaran rupiah. Clara menilai tuntutan tersebut tidak adil mengingat latar belakang perselisihan yang melibatkan pelanggaran kesetiaan rumah tangga.
Dalam konteks hukum, proses perceraian di Pengadilan Agama akan menilai bukti VCS, serta dampak psikologis yang dialami Clara. Jika terbukti, pengadilan dapat memutuskan hak asuh, pembagian harta, dan kompensasi finansial bagi Clara serta anak‑anaknya.
Perawatan psikiater yang dijalani Clara mencakup sesi konseling rutin, evaluasi medis, serta penyesuaian dosis obat penenang. Menurut tim medis, stabilisasi emosional sangat penting bagi korban kekerasan psikologis dalam konteks perceraian, terutama bila melibatkan publikasi kasus di media.
Selama proses hukum berlangsung, Clara terus menekankan pentingnya menjaga jarak komunikasi langsung dengan suami. “Semua hal yang harus dibicarakan kami serahkan kepada kuasa hukum, agar tidak berulang kembali ke konflik yang tidak produktif,” tegasnya.
Kasus Clara Shinta menjadi sorotan publik tidak hanya karena statusnya sebagai selebgram, tetapi juga karena menyoroti isu-isu penting seperti kekerasan psikologis, hak perempuan, dan pentingnya dukungan kesehatan mental dalam proses perceraian.
Ke depan, Clara berharap proses hukum dapat berjalan adil, sementara ia terus fokus pada pemulihan diri dan menjaga kesejahteraan anak‑anaknya.
