Ancaman Kanker Kolorektal Meningkat: Kenali Gejala dan Pentingnya Tes FIT untuk Deteksi Dini

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 14 April 2026 | Kanker kolorektal kini menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar di Indonesia. Data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2022 mencatat lebih dari 70.000 kasus baru kanker usus besar di tanah air, dan angka kematian diproyeksikan terus meningkat seiring pertambahan usia harapan hidup dan perubahan pola makan. Kondisi ini menuntut perhatian serius dari pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat luas.

Berbagai pakar menegaskan bahwa deteksi dini merupakan faktor penentu utama dalam meningkatkan angka kelangsungan hidup. Seperti yang disampaikan oleh Dr. Junaidi, Sp.B, dokter bedah umum terkemuka, “Pemeriksaan rutin dan kesadaran akan gejala awal dapat menurunkan tingkat mortalitas secara signifikan.” Meskipun pernyataan tersebut awalnya merujuk pada kanker payudara, prinsip yang sama berlaku kuat untuk kanker kolorektal.

Baca juga:

Gejala awal kanker kolorektal sering kali bersifat non‑spesifik, sehingga mudah terabaikan. Berikut adalah gejala yang perlu diwaspadai:

  • Perubahan kebiasaan buang air besar, seperti diare atau konstipasi yang berlangsung lebih dari dua minggu.
  • Munculnya darah pada tinja, baik berwarna merah terang maupun hitam pekat.
  • Rasa nyeri atau kram perut yang tidak kunjung reda.
  • Kehilangan berat badan secara tiba‑tiba tanpa sebab jelas.
  • Kelelahan kronis dan penurunan nafsu makan.

Jika satu atau lebih gejala tersebut muncul secara berulang, segeralah konsultasikan ke dokter. Deteksi dini tidak hanya mengandalkan pemeriksaan fisik, melainkan juga melibatkan tes laboratorium yang dapat mengidentifikasi tanda‑tanda kanker pada tahap paling awal.

Tes FIT (Fecal Immunochemical Test) menjadi pilihan utama dalam program skrining nasional karena sifatnya yang non‑invasif, murah, dan cukup sensitif untuk mendeteksi darah tersembunyi pada tinja. Pemerintah merekomendasikan tes ini bagi warga berusia 45 tahun ke atas dengan risiko rata‑rata, serta bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga kanker kolorektal.

Prosedur pelaksanaan tes FIT dapat dirangkum dalam tiga langkah sederhana:

  1. Ambil sampel tinja menggunakan kit yang disediakan, biasanya berupa dua atau tiga tabung kecil.
  2. Kirimkan sampel ke laboratorium terdekat dalam waktu 24‑48 jam, atau ikuti petunjuk penyimpanan bila harus menunggu lebih lama.
  3. Tunggu hasil, yang biasanya tersedia dalam 3‑5 hari kerja. Jika hasil positif, dokter akan merujuk pasien ke kolonoskopi untuk pemeriksaan lanjutan.

Berikut jadwal skrining yang disarankan untuk populasi umum:

Kelompok Usia Frekuensi Skrining Metode
45‑54 tahun Setiap 2 tahun FIT
55 tahun ke atas Setiap 1 tahun FIT atau kolonoskopi (jika berisiko tinggi)

Pentingnya skrining tidak hanya terletak pada deteksi, melainkan juga pada edukasi pola hidup sehat yang dapat menurunkan risiko terkena kanker kolorektal. Penelitian menunjukkan bahwa diet tinggi serat, konsumsi buah dan sayur, serta aktivitas fisik rutin dapat mengurangi kejadian kanker hingga 20 persen. Sebaliknya, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol berlebih, dan diet tinggi lemak jenuh meningkatkan risiko secara signifikan.

AstraZeneca Indonesia, dalam pernyataannya, menekankan perlunya strategi progresif yang mengintegrasikan skrining, akses terapi inovatif, dan kebijakan pendukung. “Tanpa langkah intervensi yang kuat, beban kanker dapat menjadi penghalang utama bagi pencapaian tujuan pembangunan nasional,” ujar Esra Erkomay, Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia.

Secara keseluruhan, upaya menurunkan angka kematian akibat kanker kolorektal harus bersifat multiprong, melibatkan pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat. Program edukasi publik, peningkatan akses tes FIT, serta penyediaan fasilitas kolonoskopi yang terjangkau menjadi pilar utama. Masyarakat diharapkan tidak menunggu gejala parah muncul, melainkan aktif melakukan skrining rutin dan menerapkan gaya hidup sehat.

Dengan meningkatkan kesadaran dan mempermudah akses deteksi dini, Indonesia dapat menurunkan angka mortalitas kanker kolorektal secara signifikan, sekaligus memperbaiki kualitas hidup jutaan warganya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *