Kuwait dan Arab Saudi Cabut Pembatasan Akses Militer AS, Penuhi Kebutuhan Energi Global

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 09 Mei 2026 | Kondisi di Timur Tengah semakin memanas, terutama setelah Arab Saudi dan Kuwait mencabut pembatasan akses militer Amerika Serikat (AS) terhadap pangkalan militer dan wilayah udara mereka. Langkah ini diambil setelah peluncuran operasi militer AS untuk membuka kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur penting untuk pelayaran komersial.

Menurut laporan dari Wall Street Journal, pemerintahan Trump sedang bersiap untuk memulai kembali operasi pengawalan terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz dengan dukungan Angkatan Laut dan Angkatan Udara AS. Misi militer AS ini dihentikan sementara sejak awal pekan ini setelah beroperasi selama 36 jam.

Baca juga:

Para perencana di Pentagon atau Departemen Pertahanan AS saat ini sedang menilai kerangka waktu untuk melanjutkan operasi pengawalan tersebut. Beberapa pejabat AS mengindikasikan bahwa aktivitas dapat dimulai kembali paling cepat minggu ini.

Ketegangan di Timur Tengah meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan skala besar terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Teheran membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone terhadap target-target di Israel dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS, termasuk Saudi dan Kuwait.

Aktivitas pelayaran melintasi Selat Hormuz secara efektif ditutup oleh Iran imbas pertempuran tersebut. AS merespons dengan memberlakukan blokade laut yang menargetkan lalu lintas maritim Iran di sekitar Selat Hormuz sejak pertengahan April lalu.

Baca juga:

Terlepas dari itu, gencatan senjata yang diberlakukan sejak 8 April lalu dengan mediasi Pakistan berlangsung rapuh. Perundingan damai yang digelar di Islamabad menyusul gencatan senjata itu gagal menghasilkan kesepakatan yang langgeng.

Sementara itu, Kuwait juga mengalami kondisi yang mencengangkan. Untuk pertama kalinya sejak Perang Teluk 1991, negara kaya minyak itu melaporkan ekspor minyak mentahnya anjlok hingga nol barel sepanjang April 2026. Situasi ini menjadi sinyal serius terganggunya pasokan energi global di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah.

Terhentinya ekspor ini bukan karena produksi yang berhenti, melainkan akibat lumpuhnya jalur distribusi utama. Seperti tiga dekade lalu, perang di kawasan kembali memukul sektor energi Kuwait, memicu kekhawatiran lonjakan harga bahan bakar dunia yang tak terkendali.

Baca juga:

Di lain pihak, Indonesia dan Kuwait membahas peluang peningkatan kerja sama di bidang pertahanan. Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menerima kunjungan Duta Besar Kuwait untuk Indonesia, Khalid Jassim Alyassin, di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta.

Pertemuan mereka membahas kerja sama yang mencakup bidang pendidikan dan pelatihan militer, pertukaran keahlian, hingga penguatan kapasitas pertahanan kedua negara. Indonesia dan Kuwait sendiri telah menjalin hubungan diplomatik sejak 1968.

Kesimpulan dari kondisi di atas menunjukkan bahwa situasi di Timur Tengah semakin kompleks dan mempengaruhi keamanan global, terutama dalam hal pasokan energi. Dukungan dari negara-negara lain seperti Indonesia dalam bidang pertahanan dapat membantu meningkatkan kerja sama dan stabilitas di kawasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *