Harga Solar Non-Subsidi Melambung, Dampaknya terhadap Industri Otomotif dan Masyarakat

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 09 Mei 2026 | Harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar non-subsidi telah melambung tinggi sejak akhir April 2026 lalu. Hal ini membuat pemilik mobil diesel modern harus merogoh kocek lebih dalam untuk biaya bahan bakar. Kondisi ini juga berdampak pada penjualan mobil diesel baru, salah satunya dirasakan oleh PT Toyota Astra Motor (TAM) yang memasarkan sejumlah model diesel seperti Fortuner.

Vice President Director PT TAM, Jap Ernando Demily, mengatakan bahwa kondisi saat ini tidak hanya dipengaruhi kenaikan harga BBM, tetapi juga situasi global yang turut memengaruhi perekonomian nasional. Dampak konflik geopolitik dan perang global mulai dirasakan langsung masyarakat melalui perubahan harga berbagai kebutuhan.

Baca juga:

Mobil diesel modern masih banyak digemari karena memiliki sejumlah kelebihan, mulai dari performa, ketangguhan, hingga efisiensi bahan bakar dibanding mesin bensin. Namun, dari sisi harga, mobil diesel saat ini cenderung mahal, terlebih jika dibandingkan dengan mobil yang lebih ramah lingkungan dan efisien seperti kendaraan hybrid maupun listrik.

Harga solar non-subsidi yang melambung tinggi juga membuat masyarakat harus berpikir ulang sebelum membeli mobil diesel. Beberapa model mobil diesel yang masih banyak digemari seperti Toyota Fortuner dan Mitsubishi Pajero Sport memiliki harga yang relatif mahal. Harga Toyota Fortuner, misalnya, berkisar antara Rp 584.500.000 hingga Rp 794.600.000, tergantung pada tipe dan fitur yang dipilih.

Baca juga:

Kondisi ini membuat masyarakat harus lebih bijak dalam memilih kendaraan yang sesuai dengan kebutuhan dan budget mereka. Selain itu, pemerintah juga perlu mempertimbangkan untuk mengambil kebijakan yang tepat guna mengatasi dampak kenaikan harga BBM terhadap masyarakat dan industri otomotif.

Dalam beberapa bulan terakhir, harga solar non-subsidi telah meningkat secara signifikan. Dexlite, misalnya, telah meningkat menjadi Rp 26.000 per liter, sedangkan Pertamina Dex telah meningkat menjadi Rp 27.900 per liter. Diesel Primus Plus juga telah meningkat menjadi Rp 30.890 per liter, sedangkan Ultimate Diesel telah meningkat menjadi Rp 29.000 per liter.

Baca juga:

Kenaikan harga BBM ini telah membuat masyarakat harus beradaptasi dengan harga yang lebih tinggi. Selain itu, industri otomotif juga perlu mempertimbangkan untuk mengembangkan teknologi yang lebih efisien dan ramah lingkungan guna mengatasi dampak kenaikan harga BBM.

Sebagai kesimpulan, kenaikan harga solar non-subsidi telah membuat dampak yang signifikan terhadap masyarakat dan industri otomotif. Masyarakat perlu lebih bijak dalam memilih kendaraan yang sesuai dengan kebutuhan dan budget mereka, sedangkan pemerintah perlu mempertimbangkan untuk mengambil kebijakan yang tepat guna mengatasi dampak kenaikan harga BBM.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *