PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 10 Mei 2026 | Para pemimpin Asia Tenggara yang tergabung dalam Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) telah berkumpul dan menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) yang diselenggarakan di Cebu, Filipina pada Jumat (08/05/2026). Dalam pertemuan KTT tersebut, para pemimpin Asia Tenggara membicarakan terkait koordinasi mendesak dalam menghadapi dampak perang Iran.
Koordinasi ini dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi tekanan dari guncangan energi yang telah mengguncang perekonomian mereka yang bergantung pada impor minyak. Selain itu, para pemimpin Asia Tenggara ini juga menyerukan adanya strategi untuk menjamin ketahanan energi dan pangan, serta mencegah krisis di masa depan di kawasan yang sangat rentan terhadap blokade Selat Hormuz yang telah berlangsung selama lebih dari dua bulan.
Ketua ASEAN sekaligus Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr mengatakan bahwa dampak dari perang Iran telah menciptakan efek domino berupa gangguan dan menyoroti perlunya pandangan ke depan, koordinasi, tindakan konkret, serta kolektif. “Krisis baru-baru ini merupakan pengingat yang jelas tentang betapa rentannya perekonomian kita terhadap perubahan mendadak dalam tatanan internasional dan, akibatnya, ekonomi global. Gangguan yang terjadi selama beberapa minggu ini akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diperbaiki,” tutur Ferdinand.
Untuk mengurangi tekanan akibat perang Iran, para anggota ASEAN telah menyetujui kerangka kerja berbagi bahan bakar regional, namun belum ada penjelasan rinci mengenai bagaimana program tersebut akan berfungsi, dengan rincian penting yang masih perlu diselesaikan, termasuk negara mana yang akan diprioritaskan selama krisis.
Menanggapi kerangka kerja itu, Ferdinand menyambut baik hasil tersebut, tetapi mengakui bahwa pengaturan praktis masih perlu diklarifikasi. “Bagaimana pembagiannya? Siapa yang mendapat apa? Bagaimana cara membayarnya? Apakah Anda membayarnya? Apakah ini pertukaran?…Kami belum pernah melakukannya sebelumnya,” tutur Ferdinand.
Tak hanya upaya untuk berbagi bahan regional, para anggota ASEAN juga telah sepakat untuk mengembangkan jaringan listrik regional dan cadangan bahan bakar, untuk mengurangi ketergantungan mereka pada aktivitas impor energi dari Timur Tengah. Terkait impor, ASEAN diketahui saat ini mengimpor lebih dari setengah minyak mentah dan 17% gas alamnya dari kawasan tersebut.
Presiden Prabowo Subianto mendorong penyelesaian damai antara Thailand dan Kamboja menyusul meningkatnya ketegangan di perbatasan kedua negara tersebut. Ia mengatakan Prabowo menegaskan tentang penyelesaian secara damai dalam sesi retret Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 ASEAN di Cebu, Filipina, Jumat (8/5/2026) yang berlangsung tertutup.
Dalam situasi seperti ini, diplomasi Indonesia tidak boleh berjalan biasa-biasa saja. Kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam KTT ke-48 ASEAN di Cebu, Filipina, pada 7-8 Mei 2026, menjadi momentum penting untuk membaca arah diplomasi Indonesia. Prabowo berangkat ke Filipina untuk membahas kerja sama ASEAN, penguatan konektivitas ekonomi subkawasan BIMP-EAGA, serta isu ketahanan energi di tengah dinamika geopolitik global.
KTT ASEAN kali ini menempatkan krisis energi dan ketahanan pangan sebagai isu utama, terutama karena dampak konflik Timur Tengah terhadap negara-negara Asia Tenggara yang masih bergantung pada impor energi. Di sinilah diplomasi Prabowo perlu dibaca sebagai diplomasi strategis.
Secara konseptual, diplomasi tidak dapat dilepaskan dari relasi antara kepentingan nasional, kekuatan, dan keseimbangan. Henry Kissinger menegaskan bahwa diplomasi merupakan seni mengelola kekuatan agar tidak berubah menjadi konflik terbuka, sekaligus menjaga keseimbangan agar kepentingan negara tetap terlindungi dalam tatanan internasional yang dinamis.
Dalam konteks ini, diplomasi Prabowo dapat dibaca sebagai upaya membangun pengaruh Indonesia bukan hanya melalui ketegasan posisi politik dan pertahanan, tetapi juga melalui kemampuan merangkul, membangun kepercayaan, serta menawarkan kontribusi nyata bagi stabilitas kawasan dan perdamaian global.
Kesimpulan dari KTT ASEAN ini adalah bahwa para pemimpin Asia Tenggara harus bekerja sama untuk menghadapi dampak perang Iran dan memastikan ketahanan energi dan pangan di kawasan. Dengan demikian, ASEAN dapat memperkuat posisinya di kancah internasional dan meningkatkan kemampuan negara-negara anggotanya untuk menghadapi tantangan global.
