Harga Emas Meroket, Ibu Rumah Tangga Berbondong-Bondong Menabung di Era Ketidakpastian

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 15 April 2026 | Lonjakan harga emas selama dua tahun terakhir tidak hanya meningkatkan nilai investasi masyarakat, tetapi juga memicu pergeseran pola menabung rumah tangga ke instrumen yang lebih fleksibel. Di tengah tekanan ekonomi, inflasi, dan ketidakpastian geopolitik, emas kini menjadi pilihan utama tidak hanya sebagai pelindung nilai, melainkan juga sebagai sumber dana untuk kebutuhan besar seperti ibadah, pendidikan, atau dana darurat.

Contoh nyata dapat dilihat pada kisah Siti Mukholifah, 62 tahun, yang akrab disapa Ipah. Ia mulai menabung emas digital melalui layanan Pegadaian pada awal 2024, saat harga emas masih berkisar Rp1,3 juta per gram. Dua tahun kemudian, nilai gram emas hampir dua kali lipat, mencapai hampir Rp2,8 juta. Kenaikan tersebut menjadi modal penting bagi Ipah untuk menunaikan ibadah umrah pada Februari 2026. “Kalau saya nabung uang, nilainya tetap sama; kalau emas, naik turun, tapi tren naiknya jelas,” ujarnya.

Baca juga:

Kasus serupa juga dialami Sinta Diahrum Santi, ibu rumah tangga berusia 35 tahun. Sejak 2025, ia rutin membeli emas dalam bentuk perhiasan agar sekaligus dapat dipakai. Pada awal pembelian, harga emas per gram berada di kisaran Rp1,5 juta. Dalam kurang dari satu tahun, harga tersebut melonjak menembus Rp2 juta per gram. Pada 14 April 2026, pasar mencatat harga emas perhiasan 16‑19 karat antara Rp1,6‑Rp2 juta per gram, sementara emas 24 karat mencapai Rp2,48 juta per gram dan emas 5 karat sekitar Rp465 ribu per gram. Data Lakuemas menunjukkan harga rata‑rata per gram emas perhiasan sebesar Rp2,6 juta.

Fenomena tersebut mencerminkan tren nasional yang lebih luas. Survei Jakpat mengungkapkan bahwa perhiasan kini menjadi instrumen investasi paling diminati, melampaui reksa dana, kripto, saham, dan deposito. Pergeseran preferensi ini dipicu oleh reli harga emas yang konsisten selama tiga tahun terakhir. Data Pegadaian mencatat harga emas pada tahun 2023 masih di sekitar Rp1 juta per gram, sementara pada awal 2026 harga telah menembus Rp2,9 juta per gram.

Di pasar global, tren serupa terlihat jelas. Pada 2025, harga emas dunia mencetak rekor US$3.800 per ons, naik sekitar 45% dibandingkan tahun sebelumnya. Sejak 2020 hingga September 2025, harga emas global lebih dari dua kali lipat, dari US$1.773 menjadi di atas US$3.000 per ons. Kenaikan ini memperkuat persepsi emas sebagai aset aman di tengah gejolak ekonomi dan geopolitik.

Baca juga:

Keberagaman produk emas kini menjadi nilai tambah bagi investor ritel. Dari 0,001 gram hingga 100 gram, termasuk versi digital, pilihan semakin luas. Ahmad Gozali, perencana keuangan, menilai emas kembali menjadi pilihan utama karena risikonya relatif lebih rendah dibandingkan instrumen agresif. “Saat kondisi global tidak stabil, emas cenderung menjadi pilihan karena risikonya relatif lebih rendah dibandingkan instrumen agresif,” ujarnya.

Namun, Gozali mengingatkan pentingnya memahami perbedaan antara emas investasi dan emas konsumsi. Emas perhiasan, meskipun memiliki nilai simpan, tetap bersifat konsumtif dan kurang efisien secara finansial karena selisih harga beli‑jual lebih lebar akibat ongkos produksi dan desain. Keuntungan signifikan baru terasa bila disimpan dalam jangka panjang. Sebaliknya, emas batangan atau digital menawarkan likuiditas dan margin keuntungan yang lebih tipis, namun lebih mudah diperdagangkan.

Dalam praktiknya, banyak ibu rumah tangga memilih emas perhiasan berkadar tinggi sebagai alternatif realistis, terutama ketika akses ke emas batangan terbatas atau platform digital belum merata. “Kalau ingin pegang fisik karena merasa lebih aman, pilih emas perhiasan dengan kadar setinggi mungkin,” tegas Gozali.

Baca juga:

Berikut rangkuman harga emas per 14 April 2026:

Kadar Harga per gram (Rp)
5 karat 465.000
16‑19 karat (perhiasan) 1.600.000 ‑ 2.000.000
24 karat (perhiasan) 2.480.000
Batangan/ Digital 2.800.000 ‑ 2.900.000

Secara keseluruhan, kenaikan harga emas yang konsisten memberikan sinyal kuat bahwa masyarakat, khususnya ibu rumah tangga, semakin menaruh kepercayaan pada logam mulia sebagai penyimpan nilai. Meskipun ada perbedaan efisiensi antara emas batangan, digital, dan perhiasan, semua pilihan tersebut menawarkan keamanan aset di tengah volatilitas ekonomi. Dengan semakin beragamnya produk dan kemudahan akses melalui platform digital, diperkirakan tren menabung emas akan terus menguat dalam beberapa tahun ke depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *