PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 13 Mei 2026 | Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah dan bahkan menembus level psikologis Rp17.500 per dolar AS. Kondisi ini diperkirakan akan berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, terutama melalui kenaikan harga berbagai kebutuhan sehari-hari.
Menurut akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Rijadh Djatu Winardi, pelemahan rupiah memiliki dampak yang relatif cepat terhadap harga barang yang dikonsumsi masyarakat. Hal ini disebabkan oleh fenomena inflasi impor, yakni kondisi ketika pelemahan rupiah menyebabkan harga barang impor menjadi lebih mahal dalam denominasi rupiah.
Perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor akan mengalami kenaikan biaya produksi. Meski awalnya masih bisa menggunakan stok lama, pada akhirnya penyesuaian harga sulit dihindari. Masyarakat akan mulai merasakan dampaknya dalam bentuk harga kebutuhan pokok yang meningkat, biaya transportasi yang naik, hingga harga produk kesehatan yang ikut terdampak.
Kenaikan harga tersebut dinilai bisa mulai terasa dalam rentang waktu satu hingga beberapa bulan setelah pelemahan kurs berlangsung. Selain berdampak terhadap masyarakat, pelemahan rupiah juga memberi tekanan terhadap anggaran negara, terutama pada sektor yang sensitif terhadap kurs dolar AS.
Rijadh menyebut subsidi energi menjadi salah satu pos yang paling terdampak karena Indonesia masih memiliki ketergantungan terhadap komponen impor energi. Di sisi lain, utang luar negeri pemerintah juga menjadi lebih mahal karena pembayaran pokok dan bunga dalam rupiah ikut meningkat saat kurs dolar menguat.
Ketika ruang fiskal terserap untuk subsidi dan utang, maka fleksibilitas pemerintah untuk membiayai sektor lain seperti pendidikan, kesehatan, atau perlindungan sosial menjadi terbatas. Rijadh menilai kondisi tersebut menempatkan Bank Indonesia dalam posisi dilematis antara menjaga stabilitas nilai tukar dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia juga telah membahas pengaruh melemahnya nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar kepada harga bahan bakar minyak (BBM) dan subsidi energi. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas), Laode Sulaeman, mengonfirmasi bahwa rapat tingkat menteri sedang berlangsung guna memitigasi dampak tekanan kurs terhadap sektor energi.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Rabu menyentuh Rp17.515 per USD, bergerak menguat 14 poin atau 0,08 persen apabila dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.529 per USD. Namun, kondisi ini masih dapat berubah tergantung pada berbagai faktor ekonomi dan kebijakan pemerintah.
Oleh karena itu, masyarakat Indonesia harus bersiap untuk menghadapi dampak dari pelemahan rupiah dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya mengelola keuangan pribadi dan mengembangkan strategi untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi.
