PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 14 Mei 2026 | Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengaku diam-diam mengunjungi Uni Emirat Arab (UEA) di tengah berlangsungnya perang Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran. Menurut kantor perdana menteri Israel, kunjungan tersebut telah menghasilkan terobosan bersejarah dalam hubungan antara Israel dan UEA.
Laporan menyebutkan bahwa Netanyahu bertemu dengan Presiden UEA, Sheikh Mohammed bin Zayed, di Al Ain, kota oasis dekat perbatasan dengan Oman, pada 26 Maret 2026. Pertemuan itu berlangsung selama beberapa jam. Seorang pejabat mengatakan bahwa direktur intelijen Israel Mossad, David Barnea, juga telah dua kali mengunjungi UEA selama perang dengan Iran untuk mengoordinasikan aksi militer.
Namun, klaim tersebut segera dibantah oleh Kementerian Luar Negeri UEA. Pihaknya menyatakan bahwa laporan mengenai kunjungan rahasia itu sepenuhnya tidak berdasar. UEA menegaskan kembali bahwa hubungannya dengan Israel bersifat terbuka dan dijalankan dalam kerangka Abraham Accords yang telah dikenal luas serta diumumkan secara resmi, dan tidak didasarkan pada pengaturan yang tidak transparan atau tidak resmi.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan bahwa pengumuman Netanyahu tersebut membuktikan apa yang sejak lama telah dilaporkan oleh badan keamanan Iran. Ia menegaskan bahwa kolusi dengan Israel merupakan tindakan yang tidak dapat dimaafkan dan siapa pun yang melakukannya akan menghadapi konsekuensi.
Teheran telah menyerang sejumlah sasaran di UEA, yang menjadi lokasi pangkalan militer AS, sejak Washington dan Israel mulai menyerang Iran pada akhir Februari 2026. Negara itu juga telah berulang kali mengkritik UEA karena dianggap memiliki hubungan dekat dengan AS dan Israel.
Israel dikabarkan mengirim sistem pertahanan Iron Dome ke UEA untuk menghadapi serangan Iran, sementara gencatan senjata AS-Iran masih rapuh dan belum mencapai kesepakatan damai.
Kesimpulan dari peristiwa ini menunjukkan bahwa situasi di Timur Tengah semakin kompleks dengan hubungan yang terjalin antara negara-negara di kawasan tersebut. Perlunya kerja sama dan diplomasi untuk mencapai perdamaian dan stabilitas di wilayah yang rawan konflik ini semakin penting.
