Iran Tegaskan Kesiapan Menolak Ancaman AS di Tengah Gagalnya Perundingan Islamabad

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 13 April 2026 | Iran kembali menegaskan sikapnya yang tak akan tunduk pada tekanan atau ancaman dari Amerika Serikat (AS) setelah pertemuan diplomatik yang digelar di Islamabad pada 11 April 2026 berakhir tanpa kesepakatan. Ketua parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibav, menyampaikan bahwa Tehran telah menunjukkan itikad baik melalui serangkaian inisiatif positif, namun ancaman terbaru yang dilontarkan Presiden AS Donald Trump tidak akan mengubah posisi tegas Iran. “Jika kalian berperang, kami juga akan berperang. Namun jika kalian datang dengan logika, kami akan merespons dengan logika,” ujarnya, menegaskan kesiapan Iran untuk menanggapi setiap tekanan secara proporsional.

Pertemuan di Islamabad, yang melibatkan wakil presiden AS J.D. Vance dan Qalibav, berfokus pada dua isu utama: program nuklir Iran serta keamanan di Selat Hormuz, jalur strategis yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Kedua belah pihak mengemukakan poin tuntutan yang jauh berbeda. Iran menuntut pencabutan total sanksi ekonomi dan pengakuan hak pengayaan uranium untuk tujuan damai, sementara AS menuntut penyerahan seluruh stok uranium serta penghentian produksi rudal secara menyeluruh. Ketidaksepakatan ini menjadi faktor utama yang menyebabkan perundingan berakhir tanpa hasil.

Baca juga:

Di luar ruang perundingan, ketegangan militer semakin memuncak. Pada 13 April, US Central Command mengumumkan rencana blokade terhadap kapal yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan Iran melalui Selat Hormuz. Langkah ini memicu peringatan tegas dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) yang menilai kehadiran kapal militer AS sebagai pelanggaran gencatan senjata. Ancaman Trump untuk menyerang infrastruktur energi Iran jika tidak tercapai kesepakatan semakin menambah tekanan pada pasar energi global, memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Brent melampaui US$102 per barel, sementara minyak mentah AS naik lebih dari US$104 per barel.

  • Permintaan Iran: pencabutan sanksi ekonomi total, pengakuan hak pengayaan uranium damai, jaminan keamanan di Selat Hormuz.
  • Permintaan AS: penyerahan seluruh stok uranium, penghentian produksi rudal, kontrol bersama tarif tol di Selat Hormuz.

Para pengamat internasional menilai bahwa kegagalan diplomasi di Islamabad menyerupai “jembatan kertas di atas api”. Andrea Abdul Rahman Azzqy menekankan pentingnya mekanisme pengawasan bersama di Selat Hormuz di bawah hukum internasional untuk menurunkan risiko konfrontasi. Di Indonesia, situasi ini juga menjadi perhatian serius karena dampaknya pada harga bahan bakar minyak (BBM) dan stabilitas ekonomi nasional. Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesiapan Indonesia menjadi mediator untuk menurunkan ketegangan yang terus memanas.

Baca juga:

Meski tidak ada kesepakatan, Qalibav menegaskan bahwa Iran tetap terbuka terhadap pendekatan rasional dalam diplomasi. “Kami tidak akan tunduk pada ancaman apa pun. Biarkan mereka kembali menguji tekad kami agar kami dapat memberi mereka pelajaran yang lebih besar,” katanya. Pernyataan ini menggambarkan keseimbangan antara sikap keras terhadap ancaman militer dan keinginan untuk menyelesaikan konflik melalui dialog yang berbasis logika. Dengan situasi yang terus berkembang, dunia menantikan langkah selanjutnya dari kedua belah pihak, baik dalam bentuk tindakan militer maupun upaya diplomatik lanjutan.

Kesimpulannya, ketegangan antara Iran dan AS tetap berada pada titik kritis. Kegagalan perundingan di Islamabad, ancaman blokade Selat Hormuz, serta fluktuasi harga minyak menunjukkan betapa rapuhnya stabilitas kawasan Timur Tengah. Iran tetap berpegang pada prinsip tidak tunduk pada ancaman, sementara AS menegaskan tekanan ekonomis dan militer. Upaya mediasi internasional, termasuk potensi peran Indonesia, menjadi kunci untuk mencegah eskalasi yang dapat mengguncang pasar energi global.

Baca juga:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *