PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 13 April 2026 | Jakarta, 13 April 2026 – Lembaga Survei Indonesia (LSI) mengungkap tingkat kecemasan publik yang sangat tinggi terhadap potensi serangan dari negara asing. Dari 2.020 responden yang dipilih secara acak melalui metode multistage random sampling pada periode 4–12 Maret 2026, sebanyak 90,1 persen menyatakan khawatir akan ancaman luar negeri. Di sisi lain, 74,9 persen menyatakan kesediaan untuk ikut berperang demi mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bila konflik melibatkan Indonesia.
Data tersebut menunjukkan dua tren utama: rasa takut yang meluas terhadap agresi eksternal dan semangat patriotisme yang cukup kuat. Responden dibagi menjadi beberapa tingkat kepedulian. Sebanyak 46,9 persen mengaku sangat khawatir, sementara 43,2 persen merasa cukup khawatir. Hanya 7,6 persen yang tidak khawatir, dan 1,0 persen menyatakan tidak khawatir sama sekali; sisanya tidak memberi jawaban.
Dalam hal kesiapan militer, 26,4 persen responden mengaku sangat bersedia, dan 48,5 persen bersedia untuk ikut berperang. Sebaliknya, 17,4 persen tidak bersedia, 4,4 persen sangat tidak bersedia, dan 3,2 persen tidak memberikan jawaban.
| Kategori | Persentase |
|---|---|
| Sangat Khawatir Ancaman Luar | 46,9% |
| Cukup Khawatir Ancaman Luar | 43,2% |
| Tidak Khawatir | 7,6% |
| Sangat Bersedia Berperang | 26,4% |
| Bersedia Berperang | 48,5% |
| Tidak Bersedia | 17,4% |
Selain kecemasan terhadap ancaman luar, survei mengungkapkan tingkat kebanggaan nasional yang hampir menyentuh kesempurnaan. Sebanyak 98 persen responden menyatakan bangga menjadi warga Indonesia, dengan 60,2 persen sangat bangga dan 37,8 persen cukup bangga. Lebih dari 94 persen menilai masyarakat luas juga merasa bangga menjadi warga negara Indonesia.
Identitas nasional tampak mengungguli identitas agama, suku, atau daerah. Sebanyak 51,4 persen responden lebih mengidentifikasi diri sebagai orang Indonesia, dibandingkan 34 persen yang lebih menekankan identitas agama dan 12,2 persen yang menekankan suku atau daerah asal.
Namun, rasa kebersamaan tersebut diimbangi dengan kekhawatiran akan perpecahan internal. Sebanyak 90,3 persen responden mengaku khawatir akan potensi perpecahan bangsa; 46,9 persen sangat khawatir dan 43,4 persen cukup khawatir. Di sisi lain, 98,9 persen menilai pentingnya menjaga persatuan Indonesia, dan 90,9 persen merasakan ikatan kebangsaan yang kuat.
Para pakar keamanan menafsirkan hasil ini sebagai sinyal bahwa publik menuntut kebijakan pertahanan yang lebih tegas sekaligus upaya diplomasi yang menurunkan ketegangan regional. “Tingkat kecemasan yang tinggi mengindikasikan kebutuhan akan transparansi pemerintah dalam kebijakan pertahanan, serta edukasi publik mengenai peran pertahanan sipil,” ujar salah satu analis pertahanan.
Hasil survei LSI juga menyoroti margin of error sekitar ±2,2 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen, menegaskan bahwa temuan tersebut representatif bagi populasi pemilih Indonesia yang berusia minimal 17 tahun atau sudah menikah.
Kesimpulannya, meskipun rasa kebanggaan dan kesiapan untuk membela negara berada pada level yang tinggi, kekhawatiran atas ancaman eksternal dan potensi perpecahan internal tetap menjadi fokus utama publik. Pemerintah diperkirakan akan meningkatkan alokasi anggaran pertahanan, memperkuat kerjasama militer regional, serta memperkuat program pendidikan kebangsaan guna menanggulangi kecemasan yang meluas.
