PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 13 April 2026 | Surabaya, 12 April 2024 – Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Jawa Timur, Said Abdullah, menggelar pidato hangat pada acara Halal Bihalal DPD PDIP Jatim. Dalam sambutannya, ia menyoroti ancaman era post‑truth atau pascakebenaran yang kian menggerogoti kualitas informasi di masyarakat, khususnya dalam ranah sosial dan politik.
Menurut Said, era post‑truth menandai kondisi di mana publik mengalami kesulitan membedakan antara fakta dan kebohongan, antara kejujuran dan kepalsuan, serta antara otentisitas dan kepura‑puraan. “Kita memasuki era post‑truth. Keadaan kita mengalami kesusahan untuk membedakan benar dan salah, kejujuran dan kebohongan, serta otentisitas dan kepalsuan,” ujarnya di tengah ruangan yang dipenuhi kader PDIP serta tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur.
Ia menekankan bahwa fenomena kepalsuan bukanlah hal baru. Sebagai contoh historis, Said mengingatkan kembali kisah Musailamah al‑Kadzab yang pada masa Nabi Muhammad SAW memalsukan ayat‑ayat Al‑Qur’an. “Pada zaman saat Rasulullah masih hidup saja, ayat Al‑Qur’an dipalsukan oleh Musailamah al‑Kadzab,” katanya, menegaskan bahwa manipulasi informasi telah ada sejak berabad‑abad lalu.
Namun, dalam konteks modern, Said menyoroti peran media sosial yang mempercepat penyebaran konten tidak autentik. Platform‑platform digital memungkinkan individu menampilkan identitas yang tidak sesuai dengan realitas, sehingga memudahkan penyebaran berita hoaks, narasi manipulatif, dan propaganda. “Perkembangan media sosial membuka ruang bagi seseorang menampilkan identitas yang tidak autentik, yang pada gilirannya menjerumuskan masyarakat ke dalam informasi sesat,” jelasnya.
Untuk melawan arus negatif tersebut, Said menekankan pentingnya silaturahmi sebagai pondasi utama dalam menjaga keutuhan organisasi partai dan komunitas keagamaan. Ia mengingatkan bahwa hubungan erat antara NU dan PDIP di Jawa Timur tidak dapat dipisahkan, karena keduanya memiliki nilai bersama dalam memperjuangkan keadilan, kejujuran, dan keotentikan dalam politik. “NU dan PDIP tak bisa dipisahkan; persatuan kami adalah penangkal politik kepalsuan,” tegasnya.
Selain menekankan nilai kebersamaan, Said juga menyerukan kepada para kader untuk selalu memeriksa kebenaran informasi sebelum menyebarkannya. Ia mengajak semua pihak, baik partai maupun masyarakat luas, untuk menjadi garda terdepan dalam memfilter konten digital, memverifikasi fakta, serta menolak segala bentuk propaganda yang tidak berdasar.
Dalam pidatonya, Said juga menyinggung pentingnya jati diri politik yang kuat. Ia mengajak kader PDIP Jatim untuk tetap berpegang pada prinsip perjuangan partai, menolak segala bentuk kompromi yang dapat mengaburkan identitas politik yang telah dibangun selama puluhan tahun. “Jati diri politik harus tetap jelas, tidak terdistorsi oleh arus informasi yang menyesatkan,” katanya.
Acara Halal Bihalal tersebut juga menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antar‑anggota partai dan tokoh agama, serta menyampaikan pesan bahwa persatuan dan kejujuran harus menjadi landasan dalam menghadapi tantangan era digital. Dengan menggabungkan semangat kebersamaan, kejujuran, dan kewaspadaan terhadap informasi palsu, Said Abdullah berharap PDIP Jatim dapat menjadi contoh bagi partai‑partai lain dalam menavigasi dinamika politik masa kini.
Kesimpulannya, pidato Said Abdullah di Halal Bihalal DPD PDIP Jatim menegaskan tiga poin utama: pertama, era post‑truth mengancam integritas informasi; kedua, silaturahmi dan hubungan erat antara NU‑PDIP menjadi benteng melawan kepalsuan politik; ketiga, setiap kader harus berkomitmen pada kejujuran, verifikasi fakta, serta mempertahankan jati diri politik yang otentik. Dengan langkah‑langkah tersebut, diharapkan masyarakat Surabaya dan Jawa Timur dapat terhindar dari bahaya informasi sesat dan tetap berada pada jalur pembangunan demokrasi yang sehat.
