PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 05 Agustus 2026 | Pada hari Rabu, legislasi yang memungkinkan warga New York yang menderita penyakit terminal untuk memilih bunuh diri dengan bantuan akan mulai berlaku. Undang-Undang Aid in Dying New York ini merupakan puncak dari upaya banyak pihak, dan sebuah karya seni mungkin telah mempersiapkan jalan bagi legislasi ini.
Dirilis di Amerika Serikat pada tahun 2025, film ‘The Room Next Door‘ karya Pedro Almodóvar menceritakan kisah Martha (diperankan oleh Tilda Swinton), seorang wanita yang menderita kanker terminal, yang meminta bantuan temannya, Ingrid (diperankan oleh Julianne Moore), untuk membantunya meninggal. Film ini berlatar di New York fiksi sebelum legalisasi aid in dying, dan kematian dibantu digambarkan sebagai tindakan martabat dan otonomi diri.
Penelitian kita menunjukkan bahwa film, video pendek, dan media lain yang berkaitan dengan aid in dying beredar dalam pola yang dapat diprediksi. Pada saat opini publik bergeser mendukung legalisasi, sumber daya budaya yang menonjolkan penderitaan fisik dan mengagungkan pilihan dan kontrol sering mendominasi wacana publik, sambil juga mempersempit kerangka debat.
Namun, ada bahaya ketika bingkai aid in dying hanya berdasarkan pada satu kisah hidup, terutama jika kisah itu memiliki karakter utama yang menarik dan berbicara dengan baik, seperti Martha dalam ‘The Room Next Door’. Penggambaran film, bahkan yang paling kuat dan mengubah lanskap hukum, sering mengabaikan pertimbangan sosioekonomi yang membentuk keputusan individu.
‘The Room Next Door’ tidak terkecuali. Kelompok advokasi segera memanfaatkan film ini. Compassion & Choices, yang kampanye untuk legalisasi di New York, mengadakan pemutaran film; Death with Dignity memuji film ini sebagai bukti ‘keberadaan’ legalisasi. Mary Beth Quaranta Morrissey, ketua Task Force Medical Aid in Dying Asosiasi Pengacara New York, menyebutkan film ini selama pertimbangan, dan asosiasi tersebut kemudian mendukung rekomendasi task force untuk mendukung legalisasi.
New York bukan satu-satunya tempat di mana film ini memengaruhi pembuatan kebijakan. Film ini bahkan muncul dalam debat legislatif di Uruguay selama pembahasan parlemen yang akhirnya melegalkan aid in dying di negara tersebut pada Oktober 2025.
Kisah-kisah seperti ‘The Room Next Door’ dapat menginspirasi perubahan hukum, tetapi penting untuk diingat bahwa keputusan aid in dying seringkali dipengaruhi oleh faktor-faktor sosioekonomi yang kompleks. Dalam mempertimbangkan legalisasi aid in dying, kita harus memastikan bahwa diskusi tidak hanya fokus pada kisah-kisah individu yang menarik, tetapi juga mempertimbangkan konteks sosial yang lebih luas.
Kesimpulan, film ‘The Room Next Door’ telah memainkan peran penting dalam memengaruhi opini publik dan kebijakan tentang aid in dying. Namun, kita harus tetap waspada agar tidak melupakan aspek-aspek sosioekonomi yang mempengaruhi keputusan individu dan memastikan bahwa diskusi tentang aid in dying mencakup berbagai perspektif dan konteks.
