Harga Pertalite Aman, Pemerintah Pastikan Tidak Naik Hingga Akhir Tahun

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 20 Mei 2026 | Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, seperti Pertalite dan Biosolar, tidak akan naik meskipun harga minyak mentah Indonesia naik disertai nilai tukar rupiah yang melemah.

Menurut Bahlil, rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada April 2026 sebesar USD117,31 per barel, masih di bawah asumsi ICP yang telah dirumuskan pemerintah bersama Presiden Prabowo Subianto sebesar USD100 per barel.

Baca juga:

Bahlil menjelaskan bahwa secara akumulatif, rata-rata ICP dari awal tahun hingga saat ini masih aman, sehingga pemerintah tidak perlu menaikkan harga BBM subsidi.

Kementerian ESDM menetapkan rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada April 2026 sebesar USD117,31 per barel, melonjak USD15,05 dibandingkan Maret 2026 yang tercatat USD102,26 per barel.

Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat stok Pertalite per 18 Mei 2026 berada di level 1,37 juta kiloliter (KL) atau hanya cukup untuk 16 hari.

Ketahanan stok Solar bahkan hanya berada di level 16,4 hari dengan volume 1,57 juta KL.

Pelemahan rupiah yang menembus level Rp17.700 per dolar AS mulai memberi tekanan serius terhadap beban subsidi energi pemerintah.

Di tengah lonjakan harga minyak dunia yang sudah berada di atas 100 dolar AS per barel, pemerintah justru memastikan harga BBM subsidi tidak akan naik hingga akhir 2026.

Baca juga:

Situasi ini membuat ruang fiskal kian tertekan karena impor BBM dan minyak mentah dibayar menggunakan dolar AS, sementara nilai tukar rupiah terus melemah.

Di sisi lain, konsumsi BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar masih tinggi.

Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, menegaskan pasokan BBM nasional masih dalam kondisi aman meski ketahanan stok beberapa jenis BBM subsidi relatif terbatas.

Pemerintah sudah menyiapkan skenario mitigasi jika harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) menembus 100 dolar AS per barel sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.

Namun hingga kini, rata-rata ICP Indonesia masih berada di kisaran 80-81 dolar AS per barel sehingga pemerintah menilai belum ada alasan untuk menaikkan harga BBM subsidi.

Meskipun demikian, tekanan terhadap APBN diperkirakan akan semakin besar.

Baca juga:

Pada penutupan perdagangan Selasa (19/5/2026), rupiah melemah ke level Rp17.716 per dolar AS.

Pada saat yang sama, harga minyak mentah Brent berada di level 109,15 dolar AS per barel dan WTI AS menyentuh 107,28 dolar AS per barel.

Kombinasi kurs rupiah yang melemah dan harga minyak tinggi membuat biaya impor energi melonjak.

Artinya, pemerintah harus menggelontorkan subsidi lebih besar agar harga Pertalite dan Solar tetap ditahan di level saat ini.

Kesimpulan, pemerintah memastikan bahwa harga BBM subsidi tidak akan naik hingga akhir tahun 2026, meskipun harga minyak mentah Indonesia naik disertai nilai tukar rupiah yang melemah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *