PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 29 Mei 2026 | Harga emas dunia sedikit pulih pada perdagangan Kamis, 28 Mei 2026, setelah rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) pada April 2026. Namun, harga masih turun untuk sesi ketiga berturut-turut karena skeptisisme atas kesepakatan AS-Iran membayangi prospek suku bunga.
Data menunjukkan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi melonjak 3,8% dalam 12 bulan hingga April, sesuai dengan harapan. Indeks harga price consumption expenditure (PCE) menguat 0,4% secara bulanan pada April 2026 setelah melonjak 0,7% pada Maret.
Sementara itu, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), mulai menjalankan diamond deep drilling sedalam 3.600 meter di Tambang Emas Pani demi menguji potensi tambahan sumber daya emas.
Seorang pengamat sosial ekonomi, Raya Timbul Manurung, mengusulkan agar Pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan ‘Domestik Market Obligation‘ (DMO) atas produksi emas dari perusahaan pertambangan di Indonesia. Artinya, semua perusahaan pertambangan harus menjual 50% dari produksi emasnya kepada Bank Indonesia.
Manurung menilai bahwa emas yang dijual harus bentuk kadar 99,99% atau 24 karat, dalam bentuk batangan dan ukuran standar LBMA yaitu 1.000 troy ounce, atau juga per 1 kg, 5 kg, dan 10 kg. Emas yang akan dijual oleh perusahaan pertambangan harus dimurnikan lebih dulu oleh perusahaan pemurnian logam mulia milik BUMN Antam.
Dengan kebijakan ini, Bank Indonesia akan membeli emas dengan harga pasar, sehingga secara tidak langsung Bank Indonesia akan meningkatkan jumlah likuiditas dan peredaran uang. Selain itu, Bank Indonesia akan meningkatkan cadangan emasnya, yang saat ini berada di kisaran 80 ton.
Total produksi emas Indonesia dari pertambangan saat ini tercatat mencapai sekitar 90 ton hingga 118 ton per tahunnya. Sementara itu, lembaga investasi global Rockefeller Global Investment Management memprediksi harga logam mulia tersebut bisa menembus USD 10.000 per ounce pada 2030.
Prediksi tersebut disampaikan oleh ahli strategi makro dan pasar Rockefeller Global Investment Management, Doug Moglia. Ia menilai emas masih menjadi aset utama dalam siklus bullish komoditas global yang baru, didorong meningkatnya pembelian bank sentral, ketegangan geopolitik, hingga pelemahan dolar Amerika Serikat (AS).
Kesimpulan, harga emas diprediksi masih akan melonjak dalam beberapa tahun ke depan, dan Indonesia perlu menerapkan kebijakan ‘Domestik Market Obligation’ (DMO) atas produksi emas dari perusahaan pertambangan di Indonesia untuk meningkatkan cadangan emas dan stabilitas mata uang Rupiah.
