Pasar Saham RI Terjepit, Ini yang Terjadi di Balik Layar

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 03 Juni 2026 | Pasar saham Indonesia saat ini sedang mengalami tekanan yang cukup besar. IHSG secara bulanan telah melemah berturut-turut sejak Januari hingga Mei. Kinerja pertumbuhan fundamental yang dicatatkan emiten-emiten big caps mampu menarik minat investor untuk membeli saham terkait.

Mengutip data CGS International Sekuritas, hingga sesi I ini, total nilai transaksi beli investor asing mencapai Rp 5,21 triliun. Akan tetapi nilai penjualan mencapai Rp 5,74 triliun sehingga menghasilkan net sell sebesar Rp 525,37 miliar. Dari sisi volume, investor asing membukukan pembelian sebanyak 6,77 miliar saham dan penjualan 5,66 miliar saham.

Baca juga:

PT Bumi Resources Tbk menjadi saham yang paling banyak dikoleksi asing berdasarkan volume dengan net buy mencapai 1,09 miliar saham. Posisi berikutnya ditempati PT Dewa United Tbk sebanyak 139,28 juta saham dan PT Bakrie & Brothers Tbk sebanyak 116,21 juta saham.

Sementara itu, aksi jual asing paling besar terjadi pada saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk dengan net sell mencapai 156,71 juta saham. Di posisi kedua terdapat saham PT Chandra Asri Pacific Tbk yang dilepas sebanyak 148,60 juta saham.

Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi menjelaskan bahwa dalam kondisi sekarang faktor fundamental untuk sementara waktu kurang relevan menjadi price driver saham. Di sisi lain, saat ini pasar sedang tertekan oleh tiga tekanan.

Baca juga:

Pasar sedang dikendalikan tiga tekanan non-fundamental sekaligus, yakni passive outflow MSCI/FTSE, sovereign outlook negatif Moody’s dan Fitch Rating, serta yang ketiga ketidakpastian kebijakan seperti PT DSI, hingga kenaikan BI rate 5,25%. Hal ini yang menaikkan risk premium.

Fundamental akan kembali relevan setelah tekanan mekanis dan kebijakan reda. Dalam kondisi seperti itu, Wafi menyarankan agar investor berbasis fundamental melakukan strategi dengan akumulasi bertahap.

Investor disarankan fokus pada emiten dengan free float lebih dari 15%, memiliki arus kas positif dan DER rendah, earnings visibility tinggi, serta dividend yield sebagai income buffer selama menunggu pemulihan.

Baca juga:

Untuk rekomendasi, dari sejumlah saham big caps KISI Sekuritas merekomendasikan BBCA, AAMN, ASII, MORA, BREN dan BBRI. Wafi menyarankan investor wait and see sampai tekanan efektif rebalancing FTSE 22 Juni 2026 mereda, serta konfirmasi pivot BI rate berikutnya.

Kesimpulan, pasar saham Indonesia saat ini sedang mengalami tekanan yang cukup besar. Investor perlu berhati-hati dan melakukan strategi dengan akumulasi bertahap untuk menghadapi kondisi ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *