PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 10 Juni 2026 | Perekonomian Indonesia saat ini menghadapi tekanan hebat. Rupiah melemah dan IHSG anjlok, membuat banyak pihak khawatir tentang masa depan ekonomi negara. Pelemahan rupiah dan penurunan IHSG dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk sentimen global, kondisi risk-off di pasar keuangan, serta tekanan dari transaksi berjalan dan transaksi finansial domestik.
Menurut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, rupiah diperkirakan akan menguat secara bertahap pada semester II-2026. Namun, untuk mencapai hal itu, diperlukan koordinasi yang lebih solid antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan, serta perbaikan tata kelola devisa hasil ekspor.
Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Chatib Basri mengingatkan risiko inflasi atau kenaikan harga akibat melemahnya nilai tukar rupiah. Hal itu disampaikan Chatib usai menghadiri pertemuan antara DEN dan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka.
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) kembali mengerek suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%. Langkah tersebut diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.
Ekonomi dan pasar modal Indonesia memang menghadapi salah satu periode terberat sejak krisis pandemi Covid-19. Dalam beberapa bulan terakhir, IHSG dan nilai tukar rupiah sama-sama mengalami tekanan hebat. Fenomena ini memunculkan istilah baru di kalangan pelaku pasar global yang disebut “Sell Indonesia”.
Dengan berbagai pertimbangan tersebut, pemerintah memperkirakan rupiah di 2027 terjaga stabil pada kisaran Rp 16.800 hingga Rp 17.500 per dolar AS. Namun, untuk mencapai hal itu, diperlukan kerja sama yang erat antara pemerintah, Bank Indonesia, dan pelaku ekonomi lainnya.
Kesimpulan, perekonomian Indonesia saat ini menghadapi tekanan hebat. Pelemahan rupiah dan penurunan IHSG dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk sentimen global, kondisi risk-off di pasar keuangan, serta tekanan dari transaksi berjalan dan transaksi finansial domestik. Namun, dengan koordinasi yang lebih solid antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan, serta perbaikan tata kelola devisa hasil ekspor, diharapkan rupiah dapat menguat secara bertahap pada semester II-2026.
