PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 14 Juni 2026 | Perekonomian Indonesia saat ini sedang menghadapi berbagai tantangan, salah satunya adalah suku bunga yang terus meningkat. Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,5 persen. Kenaikan ini dilakukan untuk menyelamatkan rupiah yang terus terdepresiasi dan sempat tembus Rp18 ribu per dolar AS.
Menurut Chief Economist PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN), Myrdal Gunarto, tren penguatan rupiah masih terbuka, namun pergerakannya diperkirakan tetap fluktuatif di tengah berbagai sentimen global yang membayangi pasar. Myrdal juga mengharapkan bank sentral AS tidak kembali menaikkan suku bunga agar kondisi likuiditas global tetap mendukung aliran dana ke negara berkembang.
Suku bunga yang tinggi juga dapat menekan akses pembiayaan bagi dunia usaha dan memperlambat aktivitas ekonomi riil. Risiko kredit macet juga meningkat karena beban cicilan debitur menjadi lebih berat dan kemampuan membayar mulai tertekan. Namun, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengklaim bahwa bauran kebijakan BI, termasuk kenaikan BI-Rate dan pemberian insentif hedging swap bagi investor asing, berhasil membuat rupiah terus menguat.
Di sisi lain, harapan kesepakatan damai AS-Iran meningkat karena sinyal positif dari Presiden Donald Trump. Kesepakatan ini dapat membuka blokade Selat Hormuz dan mengakhiri blokade angkatan laut Amerika terhadap pelabuhan dan garis pantai Iran. Namun, masih ada beberapa pesimisme tentang kesepakatan perdamaian, dan Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi meredakan hal itu dengan mengatakan bahwa MoU “belum pernah sedekat ini”.
Dalam beberapa hari terakhir, harga emas sedikit naik karena investor mempertimbangkan harapan yang meningkat untuk kesepakatan damai AS-Iran. Harga emas spot naik 0,2 persen menjadi USD4.218,91 per ons, sementara harga emas berjangka naik 3,1 persen menjadi USD4.239,75 per ons.
Kesimpulan, suku bunga yang tinggi dapat memiliki dampak negatif pada perekonomian, namun harapan kesepakatan damai AS-Iran dapat membantu meningkatkan kepercayaan investor dan memperkuat rupiah. Oleh karena itu, perlu dilakukan berbagai kebijakan untuk meningkatkan likuiditas dan memperkuat perekonomian.
