PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 18 Juni 2026 | Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menolak ajakan pemerintah untuk mengunjungi Papua. Penolakan ini disampaikan setelah Wakil Menteri Pertanian Sudaryono dan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid mengajak mereka untuk melihat langsung kondisi di Papua.
Ajakan tersebut muncul setelah diskusi di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM yang berakhir ricuh. Mahasiswa menuding bahwa proyek food estate atau lumbung pangan di Papua membuat orang Papua tergusur dari tempat tinggalnya.
Mesa, perwakilan mahasiswa UGM, mengatakan bahwa pihaknya menolak ajakan kedua pejabat itu. Menurutnya, pemerintah harus membuka akses informasi bagi insan pers untuk meliput kondisi di Papua.
Sementara itu, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sudah bersama perfilmwakilan mahasiswa 5 universitas saat ini sedang mengunjungi sejumlah wilayah di Papua dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Perwakilan mahasiswa UGM menegaskan bahwa penolakan terhadap dialog bersama Budiman Sudjatmiko, Nusron Wahid, dan Sudaryono memiliki alasan yang mendasar. Mereka menilai kehadiran para pejabat tersebut tidak menjawab substansi persoalan yang selama ini menjadi kegelisahan masyarakat.
Mahasiswa juga menyoroti peristiwa yang terjadi saat dialog berlangsung sehari sebelumnya di kawasan GIK UGM. Perwakilan mahasiswa UGM, Mesa, menilai respons yang diberikan oleh pemerintah justru semakin memperkuat anggapan bahwa suara rakyat belum benar-benar didengar.
Kericuhan diskusi di Universitas Gadjah Mada tidak patut dibaca secara dangkal sebagai ulah mahasiswa yang anti-dialog. Pembacaan semacam itu cenderung mendegradasi sebab, menonjolkan akibat. Ia membesarkan soal gaduh, tetapi mengecilkan problema sosial-politik yang menjadi sumber kegaduhan itu.
Mahasiswa memang marah. Mereka masuk ke ruang diskusi, menyampaikan penolakan, menggugat para narasumber, dan membuat forum tidak berjalan sebagaimana dirancang panitia. Tetapi pertanyaan yang lebih mendasar bukanlah sekadar kekacauan forum. Pertanyaan yang lebih etis adalah: penderitaan publik macam apa yang membuat mahasiswa merasa perlu menggugat kekuasaan dengan cara sekeras itu?
Di titik ini, orientasi mahasiswa harus dibela. Mereka sedang mewakili kegelisahan publik yang makin luas atas salah urus negara. Mereka mengartikulasikan rasa muak terhadap pemerintahan yang terlalu sering meminta rakyat bersabar, tetapi gagal menunjukkan empati yang sepadan.
Kesimpulan: Penolakan mahasiswa UGM terhadap ajakan pemerintah untuk mengunjungi Papua menunjukkan bahwa mahasiswa menuntut transparansi informasi dan kepedulian pemerintah terhadap kegelisahan masyarakat. Mahasiswa sedang mewakili suara rakyat yang makin luas dan menuntut perubahan.
