Megawati KAA: Pidato Berani di Peringatan 70 Tahun Konferensi Asia‑Afrika Dorong Reformasi PBB

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 19 April 2026 | Bandung kembali menjadi sorotan dunia pada 18 April 2026 saat Megawati Soekarnoputri menyampaikan pidato utama dalam rangka peringatan 70 tahun Konferensi Asia‑Afrika (KAA). Acara yang digelar di Hotel Savoy Homann menampilkan nuansa sejarah sekaligus menegaskan relevansi semangat Dasasila Bandung di tengah ketegangan geopolitik global.

Megawati menyingkap kembali latar belakang KAA yang pertama kali digelar di Bandung pada 1955, sebuah forum yang menyatukan 29 negara Asia dan Afrika untuk menolak kolonialisme dan menyeimbangkan dominasi blok Barat‑Timur. Ia menegaskan bahwa nilai‑nilai persatuan, keadilan, dan kemandirian yang dituangkan dalam Dasasila Bandung masih menjadi kompas moral bagi bangsa‑bangsa yang menghadapi tantangan era baru.

Baca juga:

Dalam orasinya, Megawati menyampaikan tiga tuntutan utama yang ia harapkan dapat menjadi agenda KAA Jilid II:

  • Penghapusan hak veto pada Perserikatan Bangsa‑Bangsa (PBB) yang selama ini memberi keistimewaan kepada negara‑negara besar, sehingga tercipta kesetaraan antarbangsa.
  • Penggantian lokasi markas PBB ke tempat netral yang tidak berada di bawah pengaruh kekuatan geopolitik utama, demi menjamin independensi lembaga internasional.
  • Penetapan Pancasila sebagai landasan hukum internasional, sebagai wujud nilai-nilai universal kemanusiaan, keadilan sosial, dan persatuan.

Megawati mengaitkan usulannya dengan pidato bersejarah Bung Karno di PBB pada tahun 1960 yang mengusulkan reformasi serupa. Ia menegaskan bahwa “dalam dunia yang kini dipenuhi erosi kepercayaan dan persaingan senjata, kita memerlukan kerangka kerja internasional yang berbasis keadilan, bukan dominasi.”

Selain menyoroti reformasi PBB, Megawati menekankan pentingnya melestarikan warisan budaya sebagai fondasi perdamaian. Ia memuji inisiatif Kementerian Kebudayaan yang mengusulkan Jalan Asia‑Afrika‑Simpang Lima sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO, menegaskan bahwa identitas visual Bandung menjadi simbol solidaritas lintas benua.

Baca juga:

Acara tersebut juga menampilkan dialog kebudayaan yang melibatkan Duta Besar Mesir untuk Indonesia, anggota DPR, serta akademisi. Diskusi menekankan peran budaya dalam diplomasi, mengingat bahwa konflik modern sering kali melukai situs bersejarah dan identitas bangsa.

Para hadirin, termasuk tokoh politik, akademisi, dan masyarakat umum, menyambut positif seruan Megawati. Banyak yang menilai bahwa panggilan untuk KAA Jilid II dapat menjadi platform baru bagi negara‑negara berkembang untuk menyuarakan kepentingan bersama dalam forum internasional.

Secara keseluruhan, pidato Megawati menegaskan kembali bahwa semangat 70 tahun KAA bukan sekadar kenangan, melainkan landasan bagi upaya kolektif menciptakan tatanan dunia yang lebih adil. Dengan mengangkat kembali Dasasila Bandung, ia berharap dapat menginspirasi generasi mendatang untuk terus memperjuangkan perdamaian, keadilan, dan kedaulatan bangsa.

Baca juga:

Kesimpulannya, Megawati KAA menegaskan bahwa reformasi struktural pada PBB, penguatan nilai‑nilai Pancasila, dan pelestarian budaya adalah langkah krusial untuk menjawab tantangan global dan menghidupkan kembali semangat solidaritas Asia‑Afrika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *