PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 22 Juni 2026 | Abdul Wahid, seorang tokoh nasional, telah menyoroti peran sentral ulama, habaib, dan tokoh agama dalam membentuk karakter serta spiritualitas bangsa. Menurutnya, keterlibatan ulama krusial untuk pembangunan Indonesia.
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar, menegaskan peran vital ulama, habaib, dan tokoh agama dalam pembangunan nasional. Mereka menjadi pilar penting untuk membentuk karakter serta spiritualitas masyarakat Indonesia.
Abdul Wahid juga menekankan bahwa ulama memiliki peran fundamental dalam membentuk fondasi moral bangsa. Mereka adalah penjaga nilai-nilai luhur yang mengarahkan masyarakat pada kebaikan. Peran ulama tidak hanya terbatas pada aspek keagamaan, tetapi juga turut serta dalam pembangunan karakter dan mentalitas yang tangguh.
Selain itu, Abdul Wahid juga menyebutkan bahwa tradisi haul, seperti Haul Ulama dan Habaib Betawi 2026, memiliki makna mendalam. Ini adalah cara untuk menjaga kesinambungan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Tradisi ini juga melestarikan kebudayaan yang menjadi kekuatan Indonesia.
Di lain pihak, 10 Muharram 2026 jatuh pada Kamis, 25 Juni 2026, menurut Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 yang diterbitkan Kementerian Agama RI. Tanggal tersebut juga sejalan dengan ketetapan Muhammadiyah pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Sementara itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melaksanakan ziarah ke makam para presiden terdahulu dalam rangkaian peringatan HUT ke-80 Bhayangkara. Pertama kali, Listyo ziarah ke makam Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), di Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Ziarah ini merupakan bentuk penghormatan dan penghargaan Polri kepada para tokoh bangsa yang telah memberikan kontribusi besar bagi perjalanan demokrasi dan reformasi di Indonesia. Gus Dur memiliki peran penting dalam sejarah bangsa, termasuk dalam proses penguatan institusi Polri sebagai lembaga yang profesional dan mandiri.
Momentum ziarah menjelang Hari Bhayangkara ke-80 juga menjadi pengingat bagi seluruh insan Bhayangkara untuk terus menjaga semangat reformasi dan profesionalisme dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat.
Jejak pemikiran dan kebijakan Gus Dur tersebut menjadi bagian penting dalam proses pembentukan Polri sebagai institusi yang profesional, modern, dan mandiri. KH. Abdurrahman Wahid juga dikenang sebagai “Bapak Pluralisme” karena konsistensinya dalam memperjuangkan nilai-nilai toleransi dan keberagaman di Indonesia.
Kesimpulan, peran ulama dalam pembangunan Indonesia sangat penting, dan tradisi haul merupakan cara untuk menjaga kesinambungan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Selain itu, ziarah ke makam para presiden terdahulu merupakan bentuk penghormatan dan penghargaan Polri kepada para tokoh bangsa yang telah memberikan kontribusi besar bagi perjalanan demokrasi dan reformasi di Indonesia.
