PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 20 April 2026 | Timnas Indonesia U-17 resmi tersingkir dari fase grup Piala AFF U-17 2026 setelah menahan imbang 0-0 melawan Vietnam pada laga penutup Grup A. Hasil tersebut menempatkan Garuda Muda pada posisi ketiga dengan empat poin, di belakang Vietnam (tujuh poin) dan Malaysia (enam poin), sehingga tidak melaju ke semifinal.
Keberangkatan tim dipimpin oleh pelatih baru Kurniawan Dwi Yulianto, yang sebelumnya pernah menjadi bagian staf pelatih di klub Serie A, Como 1907. Setelah tiga pertandingan, Kurniawan menyampaikan permohonan maaf atas hasil yang tidak memenuhi harapan publik. “Saya mengapresiasi dukungan dan memohon maaf atas permainan yang mungkin terlihat mengecewakan. Target kami memang semifinal, namun kami tetap belajar,” ujarnya dalam konferensi pers di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo.
Meski demikian, mantan pelatih Timnas U-20, Indra Sjafri, memberikan dukungan penuh kepada Kurniawan. “Kurniawan memiliki kapasitas yang cukup untuk menangani tim usia muda. Semua butuh proses, dan dia baru menjalani tiga pertandingan bersama tim,” kata Indra kepada media VIVA.co.id di Kalibaru, Jakarta Utara. Ia menekankan pentingnya memberi ruang bagi pelatih muda untuk berproses tanpa tekanan berlebih.
Indra juga mengingatkan bahwa fokus utama pembinaan pemain usia muda bukan sekadar hasil akhir, melainkan pengalaman kompetisi yang dapat memperkaya kemampuan taktis dan mental. “Saya tidak mau mengomentari cara main, tapi yang lebih penting adalah mereka mendapatkan pengalaman bermain yang baik,” tambahnya.
Selain sorotan pada performa tim, isu disiplin pemain muda juga mencuat. Nova Arianto, pelatih Timnas U-20, mengungkapkan keputusan keras terhadap Fadly Alberto, mantan pemain U-17, yang terlibat insiden tendangan berbahaya dalam pertandingan EPA 2025/2026. Nova memastikan bahwa pemain tersebut tidak dipanggil untuk Piala AFF U-19 2026 sebagai konsekuensi tindakan tidak sportif, menegaskan pentingnya sikap sportifitas dalam pengembangan generasi muda.
Reaksi publik di media sosial pun beragam. Beberapa netizen mengkritik keras Kurniawan dan para pemain, sementara yang lain menyerukan dukungan moral. Indra menilai komentar tajam dapat menambah tekanan pada pemain yang masih belajar. “Kita harus membangun kultur sepak bola yang sehat, di mana kritik tetap proporsional dan tidak merugikan perkembangan pemain,” ujarnya.
Statistik turnamen menunjukkan bahwa Indonesia mencatat empat poin dari tiga laga, dengan dua hasil imbang melawan Vietnam dan Malaysia, serta satu kemenangan melawan Laos. Meskipun tidak melaju, tim menunjukkan beberapa peningkatan taktik, terutama dalam pertahanan yang berhasil menahan serangan Vietnam selama 90 menit.
Ke depan, Kurniawan berencana memanfaatkan pengalaman Piala AFF U-17 untuk mempersiapkan tim menjelang kualifikasi Piala Asia U-17 2026. “Kami akan belajar dari kegagalan ini, memperbaiki kekurangan, dan kembali lebih kuat,” harapnya.
Secara keseluruhan, kegagalan Timnas Indonesia U-17 di Piala AFF U-17 menimbulkan pertanyaan tentang strategi pembinaan, peran pelatih muda, serta dukungan publik yang diperlukan untuk mengoptimalkan potensi generasi penerus sepak bola Indonesia.
