PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 07 Juni 2026 | Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melakukan inspeksi mendadak ke Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, setelah menerima laporan adanya penumpukan ribuan kontainer impor. Sidak ini lebih tepatnya dilakukan di Tempat Pemeriksaan Fisik Terpadu (TPFT) Graha Segara, Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea dan Cukai Tipe A Tanjung Priok.
Purbaya mengungkapkan penumpukan tersebut mencapai sekitar 3.100 kontainer dengan dokumen yang belum terselesaikan mencapai sekitar 3.000 surat. Ia mengatakan sejumlah pelaku usaha mengeluhkan gangguan pasokan bahan baku asal impor akibat kondisi tersebut. Selain itu, penumpukan juga menyebabkan dwelling time atau waktu tinggal kontainer di pelabuhan meningkat.
Menurut Purbaya, jumlah kontainer yang menumpuk sebenarnya sudah mulai berkurang setelah dilakukan langkah percepatan. Dari hasil peninjauan, ia menemukan salah satu penyebab penumpukan adalah meningkatnya volume barang masuk, sehingga proses pelayanan menjadi lebih lambat. Purbaya menilai alasan tersebut tidak masuk akal karena jika memang persoalannya seperti itu, ia tinggal meminta penambahan personal yang bekerja.
Purbaya juga menegaskan transaksi di pelabuhan seharusnya menggunakan rupiah sesuai ketentuan yang berlaku di Indonesia. Ia meminta pelaku usaha melaporkan jika masih menemukan pembayaran layanan pelabuhan yang mewajibkan penggunaan dolar AS. Pernyataan itu disampaikan menanggapi keluhan sejumlah pelaku usaha yang mengaku masih diminta bertransaksi menggunakan dolar AS di pelabuhan.
Purbaya mengaku akan terlebih dahulu mengecek praktik di lapangan. Namun, jika ditemukan pihak yang memaksa penggunaan dolar AS meski aturan mengharuskan transaksi dalam rupiah, pemerintah akan mengambil tindakan. Ia menegaskan seluruh transaksi di lingkungan pelabuhan semestinya dilakukan dalam rupiah dan meminta dunia usaha segera melapor apabila menemukan pelanggaran.
Menkeu Purbaya juga menegaskan pelemahan rupiah saat ini tidak mengarah pada krisis seperti 1997-1998. Hal ini karena fundamental ekonomi dan kondisi fiskal Indonesia masih kuat. Purbaya optimistis kondisi tersebut dapat diatasi melalui koordinasi yang erat antara pemerintah, Kementerian Keuangan, dan Bank Indonesia.
Menurut Purbaya, tekanan terhadap rupiah lebih dipicu sentimen negatif jangka pendek yang memengaruhi pergerakan nilai tukar. Purbaya menyampaikan, penyebab dari tekanan yang terjadi saat ini condong kepada sejumlah sentimen negatif. Sentimen itulah yang kerap mengganggu pergerakan nilai tukar rupiah.
Dengan pertemuan di DPR bersama Bank Indonesia, Purbaya meyakini kondisi pelemahan rupiah ini dapat diatasi melalui koordinasi yang baik antara pemerintah dan Bank Indonesia.
Kesimpulan dari pernyataan Purbaya adalah bahwa pemerintah akan terus memantau dan mengambil tindakan untuk mengatasi penumpukan kontainer di pelabuhan dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Dengan fundamental ekonomi yang kuat, Purbaya yakin bahwa Indonesia tidak akan mengalami krisis seperti 1997-1998.
