Kapal Pertamina Tertahan di Selat Hormuz, Pemerintah Gencar Diplomasi untuk Bebaskan Armada

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 21 April 2026 | Iran menutup kembali Selat Hormuz pada 18 April 2026 setelah sempat dibuka beberapa jam, menimbulkan dampak langsung pada rute pelayaran strategis dunia. Dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS), yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, kini masih berada di Teluk Arab dan belum dapat melintasi selat tersebut. Penutupan ini terjadi karena Amerika Serikat dianggap melanggar kesepakatan dengan melanjutkan blokade angkatan lautnya terhadap kapal-kapal yang beroperasi dari atau menuju pelabuhan Iran.

Kedua armada tersebut terdeteksi oleh layanan pelacakan Vessel Finder hingga pekan lalu. Pertamina Pride berada di perairan lepas pantai Al Jubail, Arab Saudi, sedangkan Gamsunoro berada di perairan lepas pantai Dubai, Uni Emirat Arab. Meskipun terperangkap, kedua kapal melaporkan kondisi operasional yang aman dan tidak ada gangguan teknis pada sistem kapal maupun muatan minyak dan gas yang mereka bawa.

Baca juga:

Vega Pita, pejabat sementara Corporate Secretary PIS, menegaskan perusahaan terus memantau situasi dengan intensif. “Kita tetap monitor dan siaga melakukan pemantauan secara intensif serta menyiapkan perencanaan pelayaran yang aman agar kapal Pertamina Pride dan Gamsunoro dapat melintasi Selat Hormuz,” ujarnya dalam keterangan tertulis. Vega menambahkan bahwa prioritas utama tetap pada keselamatan awak kapal, keamanan armada, dan keamanan muatan.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta Kementerian Luar Negeri (Kemlu) meningkatkan koordinasi diplomatik dengan otoritas Iran. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa upaya lobi intensif sedang dijalankan, meski tidak dapat dipublikasikan secara rinci karena sensitifitas geopolitik. “Kita terus melakukan komunikasi intensif dengan pihak Iran. Kolaborasi ESDM dengan Menlu juga kita lakukan terus, doakan ya,” ujar Bahlil pada konferensi pers pada 20 April.

Kemlu menegaskan isu terkait izin overflight tidak berhubungan dengan penahanan kapal. Pejabat Kemlu menyatakan bahwa semua prosedur penerbangan dan perizinan telah dipenuhi, dan fokus utama tetap pada penyelesaian diplomatik di bidang maritim.

Baca juga:

Untuk mempersiapkan pelayaran kembali, PIS telah menyusun serangkaian langkah operasional, antara lain:

  • Penyusunan rute alternatif yang memperhitungkan potensi ancaman keamanan.
  • Identifikasi risiko melalui analisis intelijen maritim dan evaluasi cuaca.
  • Penggunaan sistem navigasi elektronik terkini serta sistem pemantauan AIS.
  • Penyusunan rencana kontingensi termasuk prosedur evakuasi darurat.
  • Koordinasi dengan perusahaan asuransi, manajemen kapal, pemilik kargo, dan otoritas pelabuhan setempat.

Langkah-langkah tersebut dijalankan selaras dengan koordinasi lintas kementerian, termasuk Kementerian Luar Negeri yang membuka jalur komunikasi diplomatik dengan otoritas Iran. Upaya bersama ini diharapkan dapat mempercepat proses pemberian lampu hijau bagi kedua kapal agar dapat melintasi Selat Hormuz kembali.

Dampak penutupan Selat Hormuz tidak hanya dirasakan oleh armada Pertamina, melainkan juga memengaruhi pasokan energi nasional. Keterlambatan pengiriman minyak mentah dapat menimbulkan tekanan pada harga BBM domestik serta menambah beban logistik bagi sektor industri. Oleh karena itu, penyelesaian cepat menjadi prioritas strategis bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas energi dalam negeri.

Baca juga:

Dengan situasi yang terus dipantau secara real‑time dan upaya diplomasi yang intensif, harapan besar kini tertuju pada pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat. Begitu jalur laut kembali aman, Pertamina Pride dan Gamsunoro diharapkan dapat melanjutkan pelayaran menuju pelabuhan tujuan, memastikan pasokan energi tetap terjaga bagi rakyat Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *