Gelombang Tinggi Mengancam Perairan Indonesia, Nelayan dan Masyarakat Pesisir Diminta Waspada

PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 28 Juli 2026 | Gelombang tinggi diperkirakan akan mengancam perairan Indonesia, terutama di wilayah Selat Bali, NTT, dan Gorontalo. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi yang berlaku mulai 25 Juli 2026 hingga 29 Juli 2026.

Menurut prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas II Banyuwangi, Yudi Nugraha, Selat Bali telah memasuki periode puncak musim angin kencang dan gelombang tinggi. Kondisi ini diperparah oleh interupsi gelombang Samudera Hindia yang mengalir deras dari selatan Pulau Jawa.

Baca juga:

BMKG juga memprediksi bahwa gelombang setinggi 1,25-2,5 meter berpeluang terjadi di sejumlah wilayah perairan Indonesia, termasuk Selat Sape, perairan Utara Flores, Selat Flores-Lamakera, Selat Pantar, Selat Alor, perairan Selatan Flores, Selat Sumba, Laut Sawu, Selat Ombai, dan perairan Selatan Sumba.

Sementara itu, gelombang lebih tinggi, yakni 2,5-4 meter, berpotensi terjadi di perairan selatan Timor-Rote. BMKG mengimbau masyarakat, khususnya nelayan dan operator transportasi laut, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gelombang tinggi tersebut.

Nelayan dan masyarakat pesisir juga diminta untuk selalu memperhatikan perkembangan informasi cuaca dari BMKG sebelum memutuskan berangkat melaut. Apabila kondisi cuaca memburuk atau gelombang semakin tinggi, sebaiknya menunda aktivitas melaut demi keselamatan bersama.

BMKG mengingatkan bahwa potensi gelombang tinggi di sejumlah wilayah tersebut dapat meningkatkan risiko terhadap keselamatan pelayaran. Oleh karena itu, BMKG mengimbau masyarakat untuk selalu waspada, terutama para nelayan yang beraktivitas dengan transportasi seperti perahu nelayan, kapal tongkang, kapal feri, hingga kapal kargo dan kapal pesiar.

Baca juga:

Kondisi cuaca yang buruk juga menyebabkan speedboat yang mengangkut 11 wisatawan asing hilang kontak dalam perjalanan dari Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, menuju Marisa, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo. Pencarian terhadap kapal tersebut belum dapat dilakukan karena gelombang tinggi di perairan Teluk Tomini.

Basarnas Gorontalo menyatakan operasi SAR baru akan dilaksanakan setelah kondisi cuaca memungkinkan. Kepala Kantor Basarnas Gorontalo Heriyanto mengatakan bahwa tinggi gelombang di perairan yang akan menjadi lokasi pencarian diperkirakan mencapai 1,5 hingga 2,5 meter.

Heriyanto mengatakan bahwa kondisi gelombang menjadi salah satu pertimbangan utama sebelum operasi pencarian dimulai. Menurut dia, pencarian tidak dilakukan pada malam hari karena kondisi laut yang belum stabil dapat membahayakan keselamatan personel SAR yang akan diterjunkan.

Dalam beberapa hari terakhir, ombak berkali-kali menghantam dinding pembatas hingga air laut meluap ke area markas Satpolairud Polresta Banyuwangi di Ketapang. Kasatpolairud Polresta Banyuwangi, Kompol Muchamad Wahyudi, mengonfirmasi bahwa tren cuaca buruk ini berpotensi bertahan hingga akhir Agustus.

Baca juga:

Pihaknya meminta seluruh pihak yang beraktivitas di laut tidak mengabaikan peringatan dini. Masyarakat pesisir, nelayan, pelaku wisata bahari, hingga operator kapal penyeberangan diimbau meningkatkan kewaspadaan.

Kondisi cuaca yang buruk ini juga berdampak pada pelayaran di sekitar Pulau Komodo. Pelayaran ke Padar dan Pulau Komodo ditutup sementara karena gelombang tinggi.

BMKG mengimbau masyarakat untuk selalu waspada dan memperhatikan perkembangan informasi cuaca sebelum melakukan aktivitas di laut. Dengan demikian, keselamatan pelayaran dan masyarakat pesisir dapat terjamin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *