PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 30 Juli 2026 | Keputusan The Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5%-3,75% telah memicu kekhawatiran bahwa bank sentral mungkin tertinggal dalam perjuangannya melawan inflasi. Hal ini menyebabkan bursa saham AS ditutup jauh lebih rendah pada hari Rabu (29/7/2026). Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 1.153,18 poin, atau 2,19%, dan berakhir di 51.594,14, menandai penurunan satu hari terbesar sejak April 2025.
Keputusan The Fed ini juga mempengaruhi harga emas. Harga emas dunia kembali menguat setelah The Fed mempertahankan suku bunga acuannya. Pasar membaca keputusan itu sebagai ruang napas bagi aset tanpa imbal hasil seperti emas, terutama karena dolar AS ikut melemah setelah rapat kebijakan tersebut. Data Yahoo Finance menunjukkan kontrak emas berjangka COMEX Agustus 2026 berada di kisaran US$4.123,90 per troy ounce.
Di Indonesia, harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk. (Antam) juga mengalami kenaikan. Harga emas Antam naik Rp15.000 menjadi Rp2.616.000 per gram dari posisi sebelumnya Rp2.601.000 per gram. Selain harga jual, harga buyback atau pembelian kembali emas Antam juga mengalami kenaikan signifikan.
Keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga acuan ini disetujui melalui voting 9 berbanding 3. Tiga anggota FOMC, yakni Beth M. Hammack, Neel Kashkari, dan Lorie K. Logan, memilih menolak keputusan tersebut karena menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Juli.
Ketua The Fed, Kevin Warsh, bersikeras keputusan pembuat kebijakan untuk membiarkan suku bunga tidak berubah bukanlah tanda inersia di bank sentral, yang dia ulangi berkomitmen untuk mengatasi tekanan harga. Namun, pernyataannya gagal meredakan kekhawatiran bahwa kebijakan moneter masih kurang ketat.
Kekhawatiran inflasi diperparah oleh kenaikan tajam harga minyak setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington akan menyerang Iran “dengan keras” sebagai tanggapan atas serangan terhadap pasukan Amerika di Timur Tengah. Patokan minyak mentah West Texas Intermediate AS naik lebih dari 6% menjadi $84,46 per barel, meningkatkan kekhawatiran bahwa biaya energi yang lebih tinggi dapat memperintensifkan tekanan harga yang lebih luas.
Dalam jangka pendek, angle utama pasar adalah apakah The Fed benar-benar mendekati fase pelonggaran atau hanya menunda langkah lebih ketat. Selama data inflasi dan tenaga kerja AS belum cukup jinak, investor kemungkinan tetap berhati-hati. Emas bisa bertahan kuat jika dolar terus melemah, tetapi tekanan jual dapat muncul lagi bila yield AS naik atau pejabat The Fed memberi sinyal hawkish.
Kesimpulan, keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga acuan telah memicu kekhawatiran bahwa bank sentral mungkin tertinggal dalam perjuangannya melawan inflasi. Hal ini mempengaruhi bursa saham AS dan harga emas. Investasi emas dapat menjadi pilihan yang menarik dalam jangka pendek, namun perlu diingat bahwa keputusan The Fed dapat berubah sewaktu-waktu.
