PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 10 Agustus 2026 | Kasus pembunuhan bos Royal Phone Ambarawa, Candra Waskito, telah menghebohkan masyarakat. Polisi telah mengungkap beberapa fakta menarik terkait kasus ini. Kasat Reskrim Polres Semarang AKP Bodia Teja Lelana menyatakan bahwa motif utama pelaku adalah masalah ekonomi, bukan dendam. Dua tersangka, DPP (20) dan TI (25), telah ditangkap dan mengaku bahwa mereka merencanakan perampokan karena ingin menguasai harta korban.
Menurut keterangan polisi, DPP dan TI berencana merampok konter Royal Phone Ambarawa pada Rabu (5/8/2026) malam. Mereka mematangkan rencana di rumah DPP dan menyiapkan peralatan seperti palu, knuckle, serta keling besi. Pada pukul 21.00 WIB, DPP mendatangi toko HP Royal Phone di Kelurahan Pojoksari, Ambarawa, dan mengatakan kepada karyawan bahwa ia ingin menemui pemilik toko, Candra Waskito.
Keesokan paginya, DPP dan TI melakukan perampokan dan membunuh Candra Waskito. Mereka kemudian membawa mayat korban dengan mobil milik korban, Honda Jazz, dari Ambarawa ke Grobogan. Namun, pelaku meninggalkan 53 unit HP yang telah dimasukkan ke dalam keranjang plastik di mobil korban karena panik setelah mengetahui korban meninggal dunia.
Kasus ini telah menyita perhatian masyarakat dan menimbulkan kekhawatiran tentang keamanan di wilayah Ambarawa. Polisi telah menangkap dua tersangka dan sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap motif dan kronologis kejadian.
Di sisi lain, Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Sarif Abdillah meminta pemerintah daerah memperkuat kapasitas relawan melalui pelatihan tanggap bencana. Hal ini penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kemampuan merespons bencana alam yang mengancam wilayah Jawa Tengah.
Dalam kesimpulan, kasus pembunuhan bos Royal Phone Ambarawa merupakan kejadian yang sangat menyedihkan dan menimbulkan kekhawatiran tentang keamanan di wilayah Ambarawa. Polisi telah mengungkap beberapa fakta menarik terkait kasus ini dan sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut. Masyarakat diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat kapasitas relawan untuk menghadapi bencana alam yang mengancam wilayah Jawa Tengah.
