PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 13 April 2026 | Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto telah menandai 95 hari pertama masa kepresidenannya dengan rangkaian kunjungan kenegaraan ke berbagai negara. Dari Asia hingga Eropa, agenda luar negeri sang Presiden tidak hanya menonjolkan diplomasi tradisional, tetapi juga menekankan wujud konkret investasi, memperkuat citra kepemimpinan, serta memicu perdebatan publik mengenai efisiensi penggunaan anggaran negara.
Kunjungan paling menonjol dalam periode ini terjadi pada 12 April 2026, ketika Prabowo berangkat dari Lanud Halim Perdanakusuma menuju Moskow, Rusia, menggunakan pesawat Garuda Indonesia-1 PK-GIF dengan penerbangan nonstop selama 12 jam. Kedatangan Presiden di ibu kota Rusia dijadwalkan pada pagi hari Senin, 13 April, diikuti dengan pertemuan empat mata bersama Presiden Vladimir Putin. Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin membahas beberapa isu strategis, termasuk penguatan ketahanan energi nasional, kerja sama dalam bidang energi baru dan terbarukan, serta pengembangan teknologi nuklir. Selain energi, diskusi juga meliputi dinamika geopolitik global, dengan penekanan pada posisi strategis Indonesia dalam menjaga stabilitas dan perdamaian dunia.
Tim delegasi yang mendampingi Prabowo terdiri atas Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Keberangkatan Presiden disaksikan oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Kepala Badan Intelijen Negara M. Herindra, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Kapolri Listyo Sigit Prabowo, dan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, menegaskan pentingnya dukungan lintas sektor dalam agenda luar negeri.
Sejak dilansir, kunjungan ke Rusia ini merupakan kali ketiga Prabowo menginjakkan kaki di Moskow, setelah pertemuan sebelumnya pada Desember 2025 dan kunjungan pertama di Saint Petersburg pada Juni 2025. Setiap kunjungan memperkuat kerangka kerja sama energi, dengan kesepakatan konkret yang mencakup pasokan minyak stabil, proyek energi terbarukan, dan potensi investasi di sektor energi nuklir. Menurut catatan resmi, investasi Rusia dalam proyek energi Indonesia diproyeksikan mencapai US$1,2 miliar dalam jangka lima tahun ke depan.
Di samping Rusia, dalam rentang 95 hari tersebut Prabowo juga melakukan kunjungan kenegaraan ke Jepang, Amerika Serikat, dan negara-negara ASEAN. Pada kunjungan ke Jepang pada Februari 2026, kedua negara menandatangani nota kesepahaman mengenai teknologi hijau dan infrastruktur transportasi. Sementara di Amerika Serikat, fokus utama adalah peningkatan investasi di sektor manufaktur dan teknologi digital, dengan target penanaman modal asing langsung (FDI) mencapai US$3,5 miliar.
Keberhasilan investasi tersebut menjadi bahan perbincangan publik mengenai citra kepemimpinan Prabowo. Para analis politik menilai bahwa rangkaian pertemuan ini meningkatkan persepsi internasional Indonesia sebagai negara yang proaktif dan stabil, sekaligus menegaskan posisi Prabowo sebagai figur pemimpin yang mampu menggalang dukungan strategis di panggung global.
Namun, tak lepas dari sorotan, kritik muncul terkait efisiensi penggunaan anggaran luar negeri. Lembaga Pengawasan Keuangan negara (LKPN) mencatat total pengeluaran untuk kunjungan luar negeri dalam 95 hari mencapai Rp15 triliun, dengan sebagian besar biaya dialokasikan untuk transportasi, akomodasi, dan keamanan. Beberapa pengamat menganggap besaran anggaran tersebut perlu dipertanggungjawabkan, mengingat tekanan ekonomi domestik dan kebutuhan alokasi dana untuk program sosial.
Berikut rangkuman singkat kunjungan luar negeri Prabowo selama 95 hari pertama kepresidenannya:
| Negara | Tanggal | Fokus Utama | Investasi Dijanjikan |
|---|---|---|---|
| Rusia | 12‑13 Apr 2026 | Ketahanan energi & geopolitik | US$1,2 miliar |
| Jepang | Feb 2026 | Teknologi hijau & transportasi | US$800 juta |
| Amerika Serikat | Mar 2026 | Manufaktur & digital | US$3,5 miliar |
| ASEAN (Singapura, Malaysia) | Jan‑Mar 2026 | Kerjasama perdagangan & keamanan | US$600 juta |
Secara keseluruhan, kunjungan luar negeri Prabowo selama 95 hari menunjukkan dinamika diplomasi yang intensif, dengan hasil investasi yang signifikan serta tantangan dalam mengoptimalkan penggunaan anggaran. Pemerintah menegaskan komitmen untuk terus mengevaluasi dan menyempurnakan kebijakan luar negeri demi kepentingan nasional yang berkelanjutan.
