PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 27 April 2026 | Daniel Peretz, penjaga gawang muda asal Israel yang baru bergabung dengan Southampton, mencuri perhatian publik dunia sepak bola pada pertandingan semifinal FA Cup melawan Manchester City di Wembley. Penampilan impresifnya di bawah mistar gawang menjadi sorotan utama, meski di sela-sela sorotan tersebut muncul kontroversi akibat komentar seorang komentator olahraga Mesir yang menyinggung Israel.
Peretz, yang sebelumnya berkarier di Maccabi Tel Aviv, menandatangani kontrak tiga tahun dengan Southampton pada musim panas lalu. Transfer tersebut menjadi langkah strategis klub untuk menambah kedalaman lini belakang menjelang kompetisi domestik dan internasional. Menurut laporan internal klub, Peretz dipilih karena potensi fisik, refleks cepat, dan kemampuan distribusi bola yang cocok dengan gaya bermain modern.
Pada 14 April 2024, Wembley menjadi saksi debut besar Peretz di kompetisi Inggris. Southampton, yang tengah menikmati euforia setelah mengalahkan lawan-lawan kuat di babak sebelumnya, menghadapi Manchester City yang sedang mengejar treble. Pertandingan berlangsung sengit, dengan City menguasai penguasaan bola namun Southampton menampilkan pertahanan disiplin.
Detik-detik krusial terjadi pada menit ke-78 ketika Peretz berhasil menepis tendangan silang dari Riyad Mahrez dengan tangan bersih, menjaga keunggulan timnya 1-0. Aksi penyelamatan tersebut menjadi salah satu highlight dalam penilaian pemain, dan menambah reputasi Peretz sebagai penjaga gawang yang dapat diandalkan di level tertinggi.
Namun, kegembiraan Southampton tidak bertahan lama. Pada menit ke-84, Manchester City mencetak gol pembuka melalui serangan balik cepat, diikuti oleh gol kedua pada menit ke-90+2 yang memanfaatkan kesalahan kecil dalam lini belakang Southampton. Dua gol tersebut menutup hati para pendukung Southampton di Wembley.
Sementara sorotan utama tertuju pada pertandingan, sebuah insiden di luar lapangan menarik perhatian media internasional. Seorang komentator olahraga Mesir menolak menyebut nama Peretz selama siaran langsung, menggantinya dengan istilah umum “penjaga gawang Israel”. Tindakan tersebut memicu protes dari federasi sepak bola Israel dan organisasi hak asasi manusia, yang menilai tindakan itu sebagai diskriminasi berbasis kebangsaan.
Reaksi cepat muncul dari dunia sepak bola. Pep Guardiola, pelatih Manchester City, dalam konferensi pers menjelaskan bahwa ia tidak menyetujui komentar tersebut dan menekankan pentingnya menghormati semua pemain, tanpa memandang asal negara. Guardiola juga menyinggung percakapan animasi antara Tijjani Reijnders dan rekan-rekannya selama kemenangan Southampton di babak sebelumnya, menyoroti semangat kompetitif yang tinggi.
Penilaian pemain (player ratings) yang dirilis oleh media olahraga menunjukkan Peretz mendapatkan nilai 8,2 dari 10, menempatkannya di antara kiper terbaik di turnamen tersebut. Media lain menilai bahwa penampilannya menegaskan kualitas Premier League yang dapat dicapai oleh pemain muda asal Israel.
Keberhasilan Peretz di Wembley tidak hanya memperkuat posisi Southampton di papan klasemen, tetapi juga membuka peluang bagi pemain Israel lainnya untuk menembus liga-liga top Eropa. Di sisi lain, kontroversi komentar Mesir menimbulkan perdebatan tentang etika siaran olahraga dan pentingnya netralitas dalam menyebut nama pemain.
Secara keseluruhan, debut Daniel Peretz di FA Cup semi menunjukkan kombinasi antara bakat individu dan dinamika tim. Meskipun Southampton harus menelan kekalahan pahit, nama Peretz kini menjadi perbincangan hangat di kalangan penggemar sepak bola, baik karena penampilannya yang mengesankan maupun karena isu politik yang melingkupinya.
Ke depan, harapan besar menanti Peretz untuk terus mengasah kemampuannya dan menjadi andalan Southampton dalam kompetisi domestik serta kompetisi Eropa. Jika ia mampu mempertahankan konsistensi, nama Israel akan semakin dikenal di panggung sepak bola dunia.
