PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 28 April 2026 | Jakarta, 24 April 2026 – Menteri Pertahanan Indonesia, Menhan Sjafrie, menggelar pertemuan silaturahmi khusus di kantor Kementerian Pertahanan. Acara yang awalnya direncanakan terbuka kemudian berubah menjadi tertutup, menandakan sensitivitas agenda yang dibahas. Undangan khusus diberikan kepada sejumlah jenderal purnawirawan serta perwira aktif yang pernah memegang posisi strategis dalam TNI.
Di antara tamu yang hadir lebih awal adalah mantan Panglima ABRI, Wiranto. Kehadirannya menambah bobot historis pertemuan, mengingat peranannya dalam sejumlah operasi militer penting pada era 1990-an. Wiranto menyapa para peserta dengan salam hangat sebelum melanjutkan ke ruang utama bersama pejabat kementerian.
Tak lama setelah itu, Laksamana (Purn) Agus Suhartono, mantan Panglima Angkatan Laut, tiba. Pada kesempatan itu, panitia memperbaiki kesalahan penulisan gelar pada materi video, menegaskan pentingnya akurasi dalam penyebaran informasi resmi. Suhartono menyampaikan pandangannya mengenai tantangan keamanan maritim Indonesia di masa depan.
Selanjutnya, eks Kepala Staf Angkatan Darat, Dudung Abdurachman, juga hadir. Dudung menyoroti kebutuhan modernisasi alutsista darat, serta pentingnya sinergi antar matra dalam menghadapi ancaman non‑konvensional. Ia menekankan bahwa koordinasi yang lebih erat antara kementerian dan panglima-panglima terdahulu dapat mempercepat proses reformasi pertahanan.
Acara puncak dihadiri oleh Andika Perkasa, mantan Panglima TNI yang masih aktif dalam peran sosial dan konsultasi pertahanan. Andika memasuki ruangan dengan senyum lebar, menunjukkan semangat kebersamaan. Ia mengungkapkan harapannya agar generasi muda militer dapat mengambil pelajaran dari pengalaman para veteran.
Pembahasan utama dalam pertemuan tersebut meliputi tiga pilar strategi pertahanan nasional: modernisasi peralatan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan pembentukan aliansi regional yang lebih kuat. Menhan Sjafrie menegaskan bahwa masukan dari para purnawirawan sangat berharga untuk mengidentifikasi celah‑celah kebijakan yang belum optimal.
Selain itu, isu-isu internal seperti kesejahteraan prajurit, penataan pensiun, serta transparansi pengadaan alutsista menjadi topik hangat. Wiranto menekankan pentingnya kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan keluarga militer, sementara Agus Suhartono menyoroti perlunya standar internasional dalam proses akuisisi kapal perang.
Dudung Abdurachman menambahkan bahwa pemanfaatan teknologi informasi, termasuk sistem komando dan kontrol berbasis AI, harus dipercepat. Ia mengusulkan pembentukan tim khusus yang melibatkan akademisi, praktisi, dan mantan panglima untuk merumuskan roadmap digitalisasi TNI.
Andika Perkasa menutup diskusi dengan mengajak semua pihak untuk menegakkan prinsip “gotong royong” dalam menjaga kedaulatan negara. Ia mengingatkan bahwa tantangan keamanan kini bersifat multidimensi, mencakup terorisme, kejahatan siber, serta persaingan geopolitik di kawasan Indo‑Pasifik.
Pertemuan berakhir dengan penandatanganan nota kesepahaman simbolis antara Kementerian Pertahanan dan asosiasi mantan panglima. Nota tersebut berisi komitmen bersama untuk menyelenggarakan forum tahunan yang mempertemukan generasi veteran dan aktif dalam rangka evaluasi kebijakan pertahanan.
Dengan mengumpulkan tokoh-tokoh senior seperti Wiranto, Laksamana (Purn) Agus Suhartono, Dudung Abdurachman, dan Andika Perkasa, Menhan Sjafrie menegaskan bahwa sinergi lintas generasi menjadi kunci utama dalam memperkuat pertahanan Indonesia. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat implementasi reformasi struktural serta meningkatkan kesiapan militer menghadapi dinamika keamanan global yang terus berubah.
