PoinBerita – Kabar Nasional & Internasional Terkini – 29 April 2026 | Jakarta, 28 April 2026 – Australia kini menjadi pangkalan utama bagi kapal selam nuklir Barat dalam kerangka aliansi AUKUS, sementara Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong, tengah melakukan kunjungan resmi ke Beijing. Kedua peristiwa ini mencerminkan dinamika geopolitik yang semakin kompleks di kawasan Indo-Pasifik.
Sejak kesepakatan AUKUS ditandatangani pada 2021, Australia berkomitmen untuk mengoperasikan tiga kapal selam kelas SSN berbasis teknologi nuklir buatan Amerika Serikat dan Inggris. Pada tahun 2025, pemerintah Australia menegaskan bahwa wilayah selatan negara itu, khususnya zona perairan di sekitar Pulau Tasmania, akan dijadikan basis logistik dan pemeliharaan utama. Penempatan ini diharapkan meningkatkan kemampuan pertahanan maritim Australia serta memperkuat posisi sekutu Barat dalam menanggulangi ancaman maritim di wilayah tersebut.
Sementara itu, pada 28-30 April 2026, Penny Wong tiba di Beijing untuk memimpin Dialog Luar Negeri dan Strategis kedelapan antara kedua negara. Dalam konferensi pers di Beijing, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menyampaikan bahwa pertemuan tersebut akan membahas isu‑isu strategis, termasuk keamanan regional, perdagangan, serta kerja sama ilmiah.
Hubungan diplomatik antara Australia dan China telah berjalan sejak 1972 dan pada 2014 dinaikkan menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif. Namun, hubungan ini tidak lepas dari ketegangan, terutama terkait kebijakan hak asasi manusia di Xinjiang, Tibet, serta isu kebebasan pers. Australia tetap memegang prinsip “Satu China” namun secara berkala mengkritik pelanggaran hak asasi manusia di wilayah tersebut.
Secara ekonomi, China tetap menjadi mitra dagang terbesar Australia. Pada periode 2024‑2025, nilai perdagangan barang dan jasa antara kedua negara mencapai US$309 miliar, menyumbang sekitar 24 % dari total perdagangan Australia. Data tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:
| Tahun | Nilai Perdagangan (US$ Miliar) | Persentase dari Total Perdagangan Australia |
|---|---|---|
| 2024 | 151 | 23,5 % |
| 2025 | 158 | 24,2 % |
Keputusan Australia untuk menempatkan kapal selam nuklir di wilayahnya menimbulkan respons beragam. Sekutu NATO menilai langkah tersebut sebagai penguatan keamanan kolektif, sementara beberapa analis memperingatkan bahwa penempatan tersebut dapat memperdalam polarisasi antara blok Barat dan Beijing. Di sisi lain, kunjungan Penny Wong ke China dipandang sebagai upaya menjaga keseimbangan hubungan, mengingat Australia masih sangat bergantung pada ekspor komoditas ke pasar China, termasuk batu bara, bijih besi, dan gas alam cair.
Selama pertemuan, Wong dan Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, membahas beberapa poin krusial: keamanan maritim di Selat Malaka, implementasi perjanjian iklim Paris, serta mekanisme penyelesaian sengketa perdagangan. Kedua pejabat menegaskan pentingnya dialog berkelanjutan untuk menghindari eskalasi ketegangan di wilayah Indo-Pasifik.
Para pengamat menilai bahwa strategi Australia saat ini bersifat “dual‑track”: memperkuat aliansi militer dengan Barat melalui AUKUS, sekaligus mempertahankan hubungan ekonomi yang vital dengan China. Pendekatan ini mencerminkan realitas geopolitik di mana negara‑negara kecil harus menyeimbangkan kepentingan strategis dan ekonominya.
Keputusan untuk menempatkan kapal selam nuklir di Australia juga memicu perdebatan domestik. Beberapa kelompok lingkungan dan partai politik menyoroti risiko keamanan serta dampak lingkungan potensial dari penggunaan teknologi nuklir. Pemerintah Australia menanggapi dengan menegaskan bahwa semua operasi akan mengikuti standar keselamatan internasional yang ketat.
Secara keseluruhan, situasi ini menunjukkan bahwa Australia berada di persimpangan antara kepentingan militer Barat dan hubungan dagang dengan China. Kunjungan diplomatik Penny Wong ke Beijing menjadi momen penting untuk menegosiasikan batasan‑batasan strategis, mengurangi potensi konflik, dan memperkuat kerja sama multilateral di kawasan.
Dengan menempatkan kapal selam nuklir di wilayahnya sekaligus mempertahankan dialog konstruktif dengan China, Australia berupaya menciptakan stabilitas yang berkelanjutan di Indo‑Pasifik, meski tantangan geopolitik tetap tinggi.
